Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu

Quote dari Novel 5 Cm

“Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa.
Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apapun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri..
Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa..
Keep our dreams alive, and we will survive..”

tentang buku

travellous

by canon ps a550

 

Seperti yang sudah aku perkirakan, memang susah mencari buku ‘bagus’ di kota ini. Awal hati ingin mencari buku Supernova : Petir, yang dulu memang pernah ada niat untuk ku beli, tapi entah mengapa ku batalkan. Dan buku model-model seperti ‘itu’ tidak diperjual-belikan di kota ini.  Jadi dengan menghabiskan waktu 2 jam kurang, bolak-balik dari rak ke rak karena bingung memilih buku gara-gara nggak ada yang sesuai di hati, akhirnya aku memilih buku tentang perjalanan seorang backpacker dengan judul “Travellous”. Buku yang malam tadi nggak sempat ku sentuh karena keburu di pinjam kakak ku, dan katanya buku-nya “bagus”. Jadi beruntunglah aku, asal ambil buku dari rak, dapatnya buku ‘bagus’ *jangan nilai buku dari cover-nya: peribahasa.

Memang susah untuk memperoleh akses buku di kota ini. Yang ku tahu cuma ada 2 toko yang katanya ‘lumayan’, mungkin maksudnya ‘yang penting ada daripada nggak ada sama sekali’. Toko pertama berada satu tempat dengan mall, model toko yang malas untuk ku kunjungi, yeah selain sistem parkir kendaraan yang ribet *sering lupa parkir dimana, dan juga suasana mall yang membuat aku agak ‘risih’. Memang sejak kuliah dulu aku bukan ‘anak gaul’ yang sering nongkrong-nongkrong di mall. Aku ke mall kalau ada perlunya saja, atau mungkin di ajakin teman buat cari-cari buku *buku lagi, barang, atau nonton, itu juga jarang. Selebihnya, waktu kuliah dulu aku lebih sering datang ke tempat-tempat yang ‘biasa’ *emang bukan anak gaul, kalau toko buku aku lebih memilih sebuah toko yang berada di samping jalan arah belokan dari ringroad utara ke jalan gejayan, *aku merindukan tempat menyepi ku ini. Toko buku yang kedua di kota ini berada satu tempat dengan toko swalayan di lantai ke dua-nya. Kalau toko ini isinya buku ‘jadul’, jadi aku nggak terlalu berminat ke toko ini.

Sepertinya para investor besar telah melakukan survey di kota ini, dan menyimpulkan minat baca penduduknya sangat rendah dibandingkan kota lain sehingga tidak mau invest modal buat toko buku, daripada rugi *cuma kira-kira kq. Ya, moga-moga saja beberapa tahun ke depan banyak toko buku yang bermunculan di kota ini, secara ‘katanya’ kota ini adalah ‘calon ibukota baru’.

ngemen-ngemen *ngomong2, harga buku masih mahal di Indonesia. Katanya buku adalah jendela dunia, kalau ‘jendela’-nya mahal, sepertinya orang-orang lebih memilih ‘ventilasi’ yang lebih murah. Kebayang-kan ruangan yang nggak ada ‘jendela’-nya, yang ada cuma ‘ventilasi’, bayangan yang muncul di benak saya, ruangan seperti itu ya penjara :p .