Untuk Istri ku

Tak terhingga rasa syukur ku terhadap Tuhan memperoleh istri seperti kamu. Masa memasuki 1 tahun 2 bulan pernikahan kita banyak kebahagiaan dan masalah yang kita hadapi.

Dan hampir 6 bulan di tahun ini kita menjalanin kondisi berat seperti ini.

Ketika orang tua ku sakit; dan tuntutan aku sebagai seorang anak, dimana aku sebagai seorang suami sudah terlalu sering meninggal kan kamu sendirian melakukan segala hal, pekerjaan rumah tangga, merawat anak, sedangkan kamu masih harus melakukan tanggung jawab mu sebagai pendamping desa yang aku tahu pekerjaan itu tidak lah mudah.

Teringat ketika kamu hamil tua, aku terpaksa meninggal kamu untuk merawat mamah yang masuk rumah sakit. Bahkan ketika hasil diagnosa dokter yg bagai mimpi buruk, hanya suara mu melalui handphone yang bisa menenangkan hati ini. Bahkan keluarga mu lah yang seakan benar-benar tulus menolong mamah hingga rela meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menjaga mamah di rumah sakit sampai mamah di rujuk ke banjarmasin, sedangkan saudara-saudara mamah sendiri seakan-akan tidak peduli.

Teringat juga ketika kamu menahan sakit ketika menunggu masa-masa konstraksi pembukaan, hampir satu minggu kamu menahan rasa sakitnya.
Juga saat detik-detik kamu berusaha melahirkan anak kita secara normal, betapa kuat nya kamu menahan rasa sakit berjam-jam, hingga akhir nya dengan kondisi tekanan darah mu yang naik, di rujuk ke rumah sakit untuk dilakukan operasi caesar darurat. Terimakasih atas perlindungan Tuhan, kamu dan anak kita masih dalam penyertaan Nya.

Masa-masa pemulihan setelah operasi caesar membuktikan betapa tegar dan kuatnya kamu sebagai seorang wanita, dan sebagai seorang ibu yang ingin merawat anaknya sendiri.

Baru umur anak kita 3 hari, dengan sangat terpaksa aku meninggalkan kamu untuk ke sekian kalinya menggantikan posisi kakak ku untuk menjaga mamah di rumah sakit banjarmasin.

Sakit hati rasanya mendengar kamu yang terkena baby blue dan anak kita yang kena penyakit kuning, sedangkan aku jauh dan dalam posisi yang serba salah.

Banyak masa-masa aku sebagai seorang suami dan ayah tidak bisa melaksanakan kewajiban dan tugas ku.
Maaf banyak menyusahkan mu.

Dan sekarang dengan mamah yang di diagnosa dengan penyakit berat dan perlu perawatan yang baik, dan ku memutuskan untuk membawa mamah tinggal bersama kita, kamu dengan berbesar hati menerimanya.

Kekuatan, ketegaran, semangat, kesabaran, dan ketabahan mu sebagai seorang wanita sangat lah berharga dan tidak ternilai.

Dan sekali lagi maaf banyak menyusahkan mu istri ku…

sekilas cerita PUPNS

Para ASN (Aparatur Sipil Negara) akhir-akhir ini mungkin tengah di pusingkan dengan pengisian data diri pada PUPNS yang beralamatkan di http://epupns.bkn.go.id. Permasalahan di lapangan yang saya lihat ada berbagai faktor yaitu:

  • Permintaan dan peraturan dari BKN yang datang tiba-tiba tanpa sosialisasi awal untuk pegawai. Kenapa hal ini jadi permasalahan? Karena untuk mengisi PUPNS banyak data dan berkas yang harus di siapkan, terutama bagi mereka yang telah menjadi ASN ‘angkatan tua’. Maka timbul lah kesibukan ASN mengumpulkan berkas-berkas lama nya apalagi data yang di minta dari ijazah pendidikan SD ataupun SK CPNS.
  • Server EPUPNS yang lemot. Inilah yang paling di keluhkan 😀 . Berdasarkan ‘perasaan’ saya saat awal mula mengisi data sudah melihat ada nya keterbatasan pada bandwidth yang disediakan server untuk layanan EPUPNS ini, walaupun akhirnya ada pembatasan jumlah login ASN yang mengisi data berdasarkan hari per daerah tapi tetap saja lemot 😀 .  Bayangan seperti satu pintu yang mau di masukin ribuan orang secara bersama-sama, masih untung server BKN ini tidak down 😀 . Solusi yang seharusnya di lakukan tim IT dari BKN adalah melakukan kerjasama dengan pihak ISP yang mereka gunakan untuk melakukan update bandwidth untuk server mereka.
  • Melalui kemampuan aplikasi PUPNS yang sudah mendukung RWD (Responsive Web Design) dan loading putar2 AJAX (yang banyak bikin jengkel 😀 ) patut di hargai, tetapi dari segi basis data seperti nama sekolah atau perguruan tinggi masih memiliki kerancuan misalnya pada ijazah bernama sekolah tinggi ilmu kesehatan tapi pada basis data PUPNS malah di singkat menjadi STIKES. Hal ini kadang-kadang membuat jantungan ASN yang mengisi data, takut ijazahnya palsu 😀 . Meskipun ada sistem TICKETING untuk pelaporan tapi entah bagaimana tim BKN ini meverifikasi data yang di laporkan tidak ada pada basis data mereka?
  • Bagi ASN yang berkerja di daerah-daerah dengan infrastruktur internet nya belum ada, sebenarnya perlu di perhatikan oleh pemerintah atau dinas tempat dia bekerja seperti guru, bidan atau perawat. Contohnya beberapa hari lalu saya menerima SMS dari teman saya yang berprofesi sebagai seorang guru yang kebetulan bekerja pada di desa yang akses jalannya susah, jangan di tanya infrastruktur jaringan internet 😦 . Untuk keluar dari desa nya memerlukan waktu 1 hari penuh, belum lagi kalau masuk musim hujan, desa tersebut hampir susah di akses. Temannya saya ini kebingungan dengan pengisian data PUPNS ini, selain informasi yang sampai ke tempatnya sangat minim dan dia harus mengeluarkan dana lebih untuk mengisi PUPNS ini.
  • Banyaknya muncul operator input data ASN ‘bayaran’ yang memanfaatkan situasi dan kondisi karena banyaknya ASN yang gaptek 😀 .

Dari sudut pandang saya, PUPNS ini sebenarnya banyak gunanya selain pada tujuannya yaitu ASN mengelola datanya sendiri, data ASN yang terpusat dan berbasis teknologi, sinkronisasi data ASN antara pusat dengan daerah yang kadang-kadang data di daerah bisa muncul keajaiban keanehan, memfilter ijazah-ijazah palsu yang akhir-akhir ini marak, dll.

Sekian dulu, selamat mengisi dengan cepat sabar PUPNS 😀

Sistem “Bulletin Board” SKPD

Setelah hampir memasuki 3 bulan lebih masa sebagai pegawai “percobaan” cukup banyak yang di lihat, meskipun saya merasa itu hanya permukaannya saja.

Ini sedikit ide-ide yang secara tidak sengaja melintas di otak di tengah masa-masa “nganggur” sebagai pegawai.

Ide SISTEM “BULLETIN BOARD” SKPD muncul ketika melihat kurang efesiensi nya koordinasi antara SKPD baik itu berupa agenda pemerintahan, agenda antar SKPD, dan agenda-agenda lainnya. Hal ini disebabkan kurangnya penyebaran informasi pegawai SKPD, sehingga banyak hal yang seharusnya sangat urgent menjadi terkendala karena kurangnya informasi terkait, yang tentunya berdampaknya lambatnya roda pemerintahan.

SISTEM “BULLETIN BOARD” SKPD ini adalah sistem elektronik untuk papan pengumuman SKPD yang bertujuan untuk mempercepat penyebaran informasi, meningkatkan efesiensi, mendukung keterbukaan informasi, dan lain-lain. Berikut gambar desain sistem secara sederhana.

bbs

Dan sekali lagi ini cuma ide kasar, sistem informasi bulletin board seperti apa yang ingin di tanamkan itu cenderung berdasarkan kebutuhan dari pihak user. Sedangkan pembangunan jaringan internal untuk suatu pemerintah daerah kegunaannya sangat-sangat banyak kan 🙂 .

Inti dari penerapan teknologi informasi adalah kecepatan, efesiensi, dan penghematan. Belajar dari kondisi dan budaya yang ada, saya melihat banyak kendala dalam penerapan suatu teknologi informasi. Yang perlu diubah adalah cara berpikir dalam penggunaan teknologi informasi tersebut.

misi dalam bekerja

Pikiran selama masa #cpns 2.

 

Sering saya bertanya “sebenarnya bekerja itu untuk apa?“. Setelah sekian lama bekerja kesana kemari, ada jawabannya yang saya temukan, yaitu “bekerja itu harus memiliki misi“. Ketika kondisi bekerja begitu menekan, kita yang tidak memiliki “misi” hanya akan kehilangan harapan dan semangat untuk tetap terus berjalan. Misi lah membuat kita memandang ke depan, bukan pada kondisi sekarang.

Perlunya manajemen file pada suatu kantor

Pikiran selama masa #cpns 1:

Jaman sekarang hampir setiap bidang melakukan pekerjaan menggunakan komputer. Terutama untuk mereka yang bekerja di kantor-kantor, baik itu pemerintahan ataupun swasta. Data yang awal mulanya ber-input dan ber-output bersifat manual dan tercatat, dengan masukknya era teknologi, hampir semua data berkutat pada bentuk-bentuk digital, baik itu berupa file-file yang bersifat office (docx, pdf, pptx, txt, etc), multimedia (gambar hasil dokumentasi atau video), ataupun software-software (seperti driver printer, antivirus, etc).

Namun meskipun kita sudah secara langsung bekerja dengan data bentuk digital tersebut, secara tidak sadar kita masih menerapkan pola lama terhadap file-file tersebut. Ingatkah ketika kita mengatur berkas-berkas secara manual dengan sembarangan? Apakah yang terjadi? Pastinya ketika kita memerlukan file tersebut hal yang terjadi kita akan sangat kerepotan menemukan file tersebut. Berapa banyak tenaga dan waktu yang diperlukan untuk satu file? Belum lagi permasalahan dalam sharing file tersebut ketika diperlukan oleh banyak orang? Sedangkan yang memiliki dan mengetahui file tersebut hanya 1 orang!

Di era teknologi informasi sekarang di mana informasi dalam bentuk data bergerak sangat cepat, bisa anda bayangkan jika dalam suatu kantor yang sehari-hari nya berkutat dengan laporan dan lain-lain dengan ratusan bahkan ribuan data digital tidak memiliki sistem manajamen file yang baik?

Dan di sini lah sebenarnya peran data center muncul!  Pusat data atau yang lebih dikenal Data Center adalah suatu fasilitas yang digunakan untuk menempatkan sistem komputer dan komponen-komponen terkaitnya, seperti sistem telekomunikasi dan penyimpanan data. Fasilitas ini biasanya mencakup juga catu daya redundan atau cadangan, koneksi komunikasi data redundan, pengontrol lingkungan (mis. AC, ventilasi), pencegah bahaya kebakaran, serta piranti keamanan fisik.

Banyak sebenarnya aplikasi Open Source yang bisa diterapkan untuk pengelolaan file ini, seperti bisa di lihat pada artikel berikut : 25+ Excellent Open Source Web File Manager to Explore & Share Files . Terutama bagi kantor-kantor yang belum bisa menyediakan secara khusus infrastruktur data center.

Dengan ada data center permasalahan yang muncul akibat banyaknya data digital ataupun masalah hak akses dapat dengan mudah teratasi. Permasalahnya untuk menerapkan suatu data center yang diperlukan bukan hanya permasalahan teknis seperti infrastruktur dan aplikasi untuk data center tersebut, tapi yang penting adalah mengubah pola orang-orang dalam suatu kantor untuk mau berubah, dan tentu saja inilah permasalah yang paling sulit untuk menerapkan Teknologi Informasi dalam suatu sistem.

*Ditulis ditengah-tengah kegalauan memikirkan usaha sampingan!*

 

cerita awal pekerjaan baru

apa yang di dapat dari pengalaman di minggu pertama sebagai seorang pegawai kantor?

pertama adalah buta, saya mesti meraba-raba sistem kantor yang sama sekali tidak saya ketahui, yang pasti di awal kerjaan lebih banyak berkutat pada microsoftkocok office. Jadi untuk mengatasi ketidaktahuan, yang saya lakukan adalah meng-copy semua file-file yang saya anggap penting, itu pun susunan file-nya tidak beraturan sama sekali. Entah bagaimana mereka mencari file yang tiba-tiba diperlukan?

kedua adalah ketidakefesiensian, terlalu banyak waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Dengan sistem yang terstruktur, terlalu banyak pintu yang mesti di lewati.

ketiga adalah ketidakjelasan tupoksi (tugas pokok dan instruksi), sangat berbeda ketika saya masih berada di swasta. Ketika kita sudah menduduki suatu posisi, kita langsung tahu apa yang akan dan mesti kita lakukan, sedangkan pada sistem yang sekarang kita dibingungkan dengan ketidakjelasan, dan lebih anehnya instruksi nya pun tidak ada. Bahkan untuk saya yang sudah beberapa tahun bekerja, tetap saja bingung. Jadi saya kerjakan yang saya bisa kerjakan.

dari keseluruhannya saya belum mendapatkan ‘feel’ dengan posisi sekarang.

Mungkin sudah saatnya saya kembali ngoprek!

pemikiran random

Lama tidak menulis, entah mengapa rasanya malas sekali.

Ada beberapa kejadian yang menarik selama ini yang menyita pikiran saya, mungkin tulisan ini sifatnya random yang tidak saling terkait dan terdiri dari point-point saja.

  • Saya telah selesai membaca buku “seseorang yang selalu mengikuti kata hatinya “. Biografi dari pendiri yayasan Slamet Riyadi dari Universitas Atmajaya Yogyakarta. Saya menjadi tahu dari sisi beliau mengenai bagaimana awal mulanya berdiri kampus tempat saya menimba ilmu mulai dari S1 hingga S2 serta permasalahan yang pernah di hadapi kampus saya. Pada point ini saya memiliki pemikiran bagaimana suatu yayasan dibalik suatu perguruan tinggi swasta sangat memiliki peran dalam mengembangkan universitas, dan semestinya orang-orang dibalik pengembangan tersebut harus benar-benar ‘care’ dengan misinya terhadap pendidikan, bukannya menjadikan lembaga pendidikan sebagai aset ekonomi untuk mengeruk keuntungan dari mahasiswa, ataupun menjadikan perusahaan keluarga, seperti pada prinsip beliau di dalam buku tersebut dalam menangani ‘masalah’ di UAJY, selalu-lah “serviens in lumine veritatis“.
  •  Akhir-akhir ini saya banyak menguji mahasiswa (proposal dan TA, terutama proposal). Dan permasalahan yang selalu saya temui ketika menguji TA adalah mahasiswa yang kurang paham apa yang dibuatnya. Ada celentukan yang tidak terlalu saya suka yaitu “kalau awalnya tempe masa keluarnya daging!”. Sebenarnya tujuan institusi pendidikan itu sebenarnya apa? Bukankah untuk men’tranformasi’ mahasiswa dalam proses-proses nya di dalam suatu lingkup lembaga pendidikan menjadi manusia yang lebih berpengetahuan , mandiri, dan humanis. Nah jikalau yang awal masuk adalah tempe kemudian keluarnya tetap tempe, terus yang salah ada dimana? Apakah pada inputan awal yang tempe atau pada proses pengolahannya? Bukankah sekarang ada “tempe rasa daging”?
  • Saya ingin kembali mengaktifkan hobi saya di fotografi, terutama mengenai essay foto dan foto hitam puith dengan RAW. Oh ya, saya sekarang sedang mencoba dry box sendiri, semenjak kasus body kamera saya berjamur kemarin dulu.
  • Ada 3 website yang coba saya kembangkan 3 bulan terakhir ini, yang pertama adalah website berbasis pyroCMS, kemudian website berbasis wordpress untuk toko online dan company profile.
  • Saya juga sedang belajar untuk memperdalam ilmu dalam bidang desain dengan photoshop seperti untuk editing foto, desain banner,dan lain-lain
  • Saya mencoba menyelesaikan bacaan dari ebook novel hasil download berupa “Benteng Digital” Dan Brown, mungkin kemudian dilanjutkan dengan dwilogi dari Andrea Hirata.