Kok Masih Sibuk?

Libur panjang telah lama lewat. Kerjaan sebelum libur sampai berdarah-darah telah di lalui. Ternyata selama libur saya masih sibuk, bukan kerjaan kantor tapi bersih-bersih rumah dan bekas warnet. Warnet sudah lama saya tutup karena pendapatan yang semakin turun dan tidak sesuai dengan beban pengeluaran bulannya. Untuk komputer warnet saya masih berpikir nanti digunakan untuk apa?

Rumah yang baru ditempati, masih perlu pembersihan. Dari rumput yang tinggi, kayu bekas yang masih belum teratur, kamar yang masih berantakan dan lain-lain

Setelah libur masih di kejar-kejar target penyaluran, nasib 114 desa ada di tangan. Bahkan setelah selesai target, saya masih di sibukkan dengan mengurus kost di palangkaraya yang sudah lama terbengkalai.

Saya tidak sempat mengeksplorer diri, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dengan kesibukan yang kian mendesak., waktu luang saya di rumah banyak di habiskan dengan keluarga sebagai penawar stress.

Project sampingan sebagai freelance untuk refresh otak sampai saat ini masih belum jelas. Ijin pindah dinas seperti nya masih kecil kemungkinan karena ketergantungan yang lumayan tinggi sehingga ketakutan pimpinan jika saya pindah ada yang tidak berjalan.

Bahkan untuk menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, saya sudah sangat kesusahan.

 

Mari kita lihat apakah masih sibuk atau sudah tidak nantinya?

 

One More Light

 

Who cares if one more light goes out, In the sky of a million stars?
Who cares when someone’s time runs out, If a moment is all we are?
Who cares if one more light goes out?
Well, I do.

Kuala Kurun, 31 Desember 2017

 

Selamat Malam Tahun Baru 2018 untuk Papah dan Mamah disana 🙂 ..

ibu kota

Ibu kota yang “crowded” tidak akan pernah menjadi tempat cocok untuk orang seperti saya yang lebih menyukai tempat yang damai dan tenang seperti rumah…

Menghitung hari-hari yang telah lewat, seakan tidak sabar untuk bekerja dengan posisi baru, bukannya saya tidak menyenangi posisi sekarang, tetapi saya menyakini karena pekerjaan yang saya jalani sekarang akan menemani saya nanti hingga tua, mengapa tidak sekalian saja kita bersikukuh mencari dan menempatkan diri dengan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan ‘passion’ kita.

 

Jakarta, 19/09/2017

Untuk Istri ku

Tak terhingga rasa syukur ku terhadap Tuhan memperoleh istri seperti kamu. Masa memasuki 1 tahun 2 bulan pernikahan kita banyak kebahagiaan dan masalah yang kita hadapi.

Dan hampir 6 bulan di tahun ini kita menjalanin kondisi berat seperti ini.

Ketika orang tua ku sakit; dan tuntutan aku sebagai seorang anak, dimana aku sebagai seorang suami sudah terlalu sering meninggal kan kamu sendirian melakukan segala hal, pekerjaan rumah tangga, merawat anak, sedangkan kamu masih harus melakukan tanggung jawab mu sebagai pendamping desa yang aku tahu pekerjaan itu tidak lah mudah.

Teringat ketika kamu hamil tua, aku terpaksa meninggal kamu untuk merawat mamah yang masuk rumah sakit. Bahkan ketika hasil diagnosa dokter yg bagai mimpi buruk, hanya suara mu melalui handphone yang bisa menenangkan hati ini. Bahkan keluarga mu lah yang seakan benar-benar tulus menolong mamah hingga rela meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menjaga mamah di rumah sakit sampai mamah di rujuk ke banjarmasin, sedangkan saudara-saudara mamah sendiri seakan-akan tidak peduli.

Teringat juga ketika kamu menahan sakit ketika menunggu masa-masa konstraksi pembukaan, hampir satu minggu kamu menahan rasa sakitnya.
Juga saat detik-detik kamu berusaha melahirkan anak kita secara normal, betapa kuat nya kamu menahan rasa sakit berjam-jam, hingga akhir nya dengan kondisi tekanan darah mu yang naik, di rujuk ke rumah sakit untuk dilakukan operasi caesar darurat. Terimakasih atas perlindungan Tuhan, kamu dan anak kita masih dalam penyertaan Nya.

Masa-masa pemulihan setelah operasi caesar membuktikan betapa tegar dan kuatnya kamu sebagai seorang wanita, dan sebagai seorang ibu yang ingin merawat anaknya sendiri.

Baru umur anak kita 3 hari, dengan sangat terpaksa aku meninggalkan kamu untuk ke sekian kalinya menggantikan posisi kakak ku untuk menjaga mamah di rumah sakit banjarmasin.

Sakit hati rasanya mendengar kamu yang terkena baby blue dan anak kita yang kena penyakit kuning, sedangkan aku jauh dan dalam posisi yang serba salah.

Banyak masa-masa aku sebagai seorang suami dan ayah tidak bisa melaksanakan kewajiban dan tugas ku.
Maaf banyak menyusahkan mu.

Dan sekarang dengan mamah yang di diagnosa dengan penyakit berat dan perlu perawatan yang baik, dan ku memutuskan untuk membawa mamah tinggal bersama kita, kamu dengan berbesar hati menerimanya.

Kekuatan, ketegaran, semangat, kesabaran, dan ketabahan mu sebagai seorang wanita sangat lah berharga dan tidak ternilai.

Dan sekali lagi maaf banyak menyusahkan mu istri ku…