Kok Masih Sibuk?

Libur panjang telah lama lewat. Kerjaan sebelum libur sampai berdarah-darah telah di lalui. Ternyata selama libur saya masih sibuk, bukan kerjaan kantor tapi bersih-bersih rumah dan bekas warnet. Warnet sudah lama saya tutup karena pendapatan yang semakin turun dan tidak sesuai dengan beban pengeluaran bulannya. Untuk komputer warnet saya masih berpikir nanti digunakan untuk apa?

Rumah yang baru ditempati, masih perlu pembersihan. Dari rumput yang tinggi, kayu bekas yang masih belum teratur, kamar yang masih berantakan dan lain-lain

Setelah libur masih di kejar-kejar target penyaluran, nasib 114 desa ada di tangan. Bahkan setelah selesai target, saya masih di sibukkan dengan mengurus kost di palangkaraya yang sudah lama terbengkalai.

Saya tidak sempat mengeksplorer diri, meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dengan kesibukan yang kian mendesak., waktu luang saya di rumah banyak di habiskan dengan keluarga sebagai penawar stress.

Project sampingan sebagai freelance untuk refresh otak sampai saat ini masih belum jelas. Ijin pindah dinas seperti nya masih kecil kemungkinan karena ketergantungan yang lumayan tinggi sehingga ketakutan pimpinan jika saya pindah ada yang tidak berjalan.

Bahkan untuk menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan, saya sudah sangat kesusahan.

 

Mari kita lihat apakah masih sibuk atau sudah tidak nantinya?

 

Iklan

ibu kota

Ibu kota yang “crowded” tidak akan pernah menjadi tempat cocok untuk orang seperti saya yang lebih menyukai tempat yang damai dan tenang seperti rumah…

Menghitung hari-hari yang telah lewat, seakan tidak sabar untuk bekerja dengan posisi baru, bukannya saya tidak menyenangi posisi sekarang, tetapi saya menyakini karena pekerjaan yang saya jalani sekarang akan menemani saya nanti hingga tua, mengapa tidak sekalian saja kita bersikukuh mencari dan menempatkan diri dengan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan ‘passion’ kita.

 

Jakarta, 19/09/2017

Selamat Jalan Mamah

Selamat jalan mamah, ku kira umur mu masih panjang tapi sepertinya kau yang selalu benar.

Maafkan anak mu ini, banyak salah dgn mamah.

Hari ini hujan dgn di iringin petir, seperti keinginan mu beberapa hari terakhir ini, demikian saat-saat terakhir mu.

Mamah, tidak ada yang menyangka hidup seperti ini, apalah daya kita manusia.

Mulai bulan agustus 2015, kamu melawan penyakit mu. Manusia hanya bisa berusaha.

Maafkan anak mu yang banyak memaksa mamah untuk melawan penyakit nya, tapi siapakah aku yang tidak merasa apa yang mamah rasa, semua itu agar mamah sehat lagi.

Di sore Jumat Agung ini, mamah, kamu pergi menghadap Bapa di Sorga.

Mamah kamu sudah damai disana, tidak perlu lagi cemas kantong kolostomi mu merembes, tidak cemas lagi mati lampu, tidak cemas lagi hawa panas, tidak cemas lagi akan hidup di dunia yang fana ini.

Sudah 2 minggu lebih ini mamah,aku punya perasaan tidak enak. Seakan-akan hanya menunggu waktu mu tiba, tiap malam beberapa jam sekali aku menengok ke kamar mu, memperhatikan gerakan di dada mu, apakah masih bernafas atau tidak.

Hati ini semakin hancur, melihat kondisi mu yang semakin menurun, semakin kurus.

Ingat hanya beberapa bulan sebelum kamu jatuh sakit mamah, kamu begitu antusias mencari batu akik, kegemaran yang sama dengan almarhum bue. Sama sekali tidak terlintas kamu memiliki penyakit yang berat.

Tenang Mamah, jangan kuatir lagi.

Hidup mu sudah komplit, sukses menyekolahkan kedua anaknya hingga S2, sudah menjadi seorang tambi, masih sempat tertawa melihat cucu mu yang lucu.

Hidup mu tidak lah gagal, walau keluarga kita seperti ini, jangan lah sedih disana, mamah pasti ketemu papah di sorga.

Jangan cemas dengan kami yang kau tinggal kan. Ku janji akan tetap menjaga kakak ku, agar jangan lagi dia salah langkah.

Jangan juga kau cemas kan aku. Aku sudah bekerja pasti seperti yang kau ingin kan selama ini. Aku menjadi seorang kepala keluarga, seorang ayah. Dan mamah, kita sudah memiliki penerus dari keluarga kita, cucu mu.

Mamah tenang di rumah Bapa di sorga, jangan kuatir lagi.

Kuala Kurun, 25 Maret 2016

Untuk Istri ku

Tak terhingga rasa syukur ku terhadap Tuhan memperoleh istri seperti kamu. Masa memasuki 1 tahun 2 bulan pernikahan kita banyak kebahagiaan dan masalah yang kita hadapi.

Dan hampir 6 bulan di tahun ini kita menjalanin kondisi berat seperti ini.

Ketika orang tua ku sakit; dan tuntutan aku sebagai seorang anak, dimana aku sebagai seorang suami sudah terlalu sering meninggal kan kamu sendirian melakukan segala hal, pekerjaan rumah tangga, merawat anak, sedangkan kamu masih harus melakukan tanggung jawab mu sebagai pendamping desa yang aku tahu pekerjaan itu tidak lah mudah.

Teringat ketika kamu hamil tua, aku terpaksa meninggal kamu untuk merawat mamah yang masuk rumah sakit. Bahkan ketika hasil diagnosa dokter yg bagai mimpi buruk, hanya suara mu melalui handphone yang bisa menenangkan hati ini. Bahkan keluarga mu lah yang seakan benar-benar tulus menolong mamah hingga rela meninggalkan pekerjaannya untuk ikut menjaga mamah di rumah sakit sampai mamah di rujuk ke banjarmasin, sedangkan saudara-saudara mamah sendiri seakan-akan tidak peduli.

Teringat juga ketika kamu menahan sakit ketika menunggu masa-masa konstraksi pembukaan, hampir satu minggu kamu menahan rasa sakitnya.
Juga saat detik-detik kamu berusaha melahirkan anak kita secara normal, betapa kuat nya kamu menahan rasa sakit berjam-jam, hingga akhir nya dengan kondisi tekanan darah mu yang naik, di rujuk ke rumah sakit untuk dilakukan operasi caesar darurat. Terimakasih atas perlindungan Tuhan, kamu dan anak kita masih dalam penyertaan Nya.

Masa-masa pemulihan setelah operasi caesar membuktikan betapa tegar dan kuatnya kamu sebagai seorang wanita, dan sebagai seorang ibu yang ingin merawat anaknya sendiri.

Baru umur anak kita 3 hari, dengan sangat terpaksa aku meninggalkan kamu untuk ke sekian kalinya menggantikan posisi kakak ku untuk menjaga mamah di rumah sakit banjarmasin.

Sakit hati rasanya mendengar kamu yang terkena baby blue dan anak kita yang kena penyakit kuning, sedangkan aku jauh dan dalam posisi yang serba salah.

Banyak masa-masa aku sebagai seorang suami dan ayah tidak bisa melaksanakan kewajiban dan tugas ku.
Maaf banyak menyusahkan mu.

Dan sekarang dengan mamah yang di diagnosa dengan penyakit berat dan perlu perawatan yang baik, dan ku memutuskan untuk membawa mamah tinggal bersama kita, kamu dengan berbesar hati menerimanya.

Kekuatan, ketegaran, semangat, kesabaran, dan ketabahan mu sebagai seorang wanita sangat lah berharga dan tidak ternilai.

Dan sekali lagi maaf banyak menyusahkan mu istri ku…

cerita awal pekerjaan baru

apa yang di dapat dari pengalaman di minggu pertama sebagai seorang pegawai kantor?

pertama adalah buta, saya mesti meraba-raba sistem kantor yang sama sekali tidak saya ketahui, yang pasti di awal kerjaan lebih banyak berkutat pada microsoftkocok office. Jadi untuk mengatasi ketidaktahuan, yang saya lakukan adalah meng-copy semua file-file yang saya anggap penting, itu pun susunan file-nya tidak beraturan sama sekali. Entah bagaimana mereka mencari file yang tiba-tiba diperlukan?

kedua adalah ketidakefesiensian, terlalu banyak waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Dengan sistem yang terstruktur, terlalu banyak pintu yang mesti di lewati.

ketiga adalah ketidakjelasan tupoksi (tugas pokok dan instruksi), sangat berbeda ketika saya masih berada di swasta. Ketika kita sudah menduduki suatu posisi, kita langsung tahu apa yang akan dan mesti kita lakukan, sedangkan pada sistem yang sekarang kita dibingungkan dengan ketidakjelasan, dan lebih anehnya instruksi nya pun tidak ada. Bahkan untuk saya yang sudah beberapa tahun bekerja, tetap saja bingung. Jadi saya kerjakan yang saya bisa kerjakan.

dari keseluruhannya saya belum mendapatkan ‘feel’ dengan posisi sekarang.

Mungkin sudah saatnya saya kembali ngoprek!