Sistem “Bulletin Board” SKPD

Setelah hampir memasuki 3 bulan lebih masa sebagai pegawai “percobaan” cukup banyak yang di lihat, meskipun saya merasa itu hanya permukaannya saja.

Ini sedikit ide-ide yang secara tidak sengaja melintas di otak di tengah masa-masa “nganggur” sebagai pegawai.

Ide SISTEM “BULLETIN BOARD” SKPD muncul ketika melihat kurang efesiensi nya koordinasi antara SKPD baik itu berupa agenda pemerintahan, agenda antar SKPD, dan agenda-agenda lainnya. Hal ini disebabkan kurangnya penyebaran informasi pegawai SKPD, sehingga banyak hal yang seharusnya sangat urgent menjadi terkendala karena kurangnya informasi terkait, yang tentunya berdampaknya lambatnya roda pemerintahan.

SISTEM “BULLETIN BOARD” SKPD ini adalah sistem elektronik untuk papan pengumuman SKPD yang bertujuan untuk mempercepat penyebaran informasi, meningkatkan efesiensi, mendukung keterbukaan informasi, dan lain-lain. Berikut gambar desain sistem secara sederhana.

bbs

Dan sekali lagi ini cuma ide kasar, sistem informasi bulletin board seperti apa yang ingin di tanamkan itu cenderung berdasarkan kebutuhan dari pihak user. Sedangkan pembangunan jaringan internal untuk suatu pemerintah daerah kegunaannya sangat-sangat banyak kan 🙂 .

Inti dari penerapan teknologi informasi adalah kecepatan, efesiensi, dan penghematan. Belajar dari kondisi dan budaya yang ada, saya melihat banyak kendala dalam penerapan suatu teknologi informasi. Yang perlu diubah adalah cara berpikir dalam penggunaan teknologi informasi tersebut.

misi dalam bekerja

Pikiran selama masa #cpns 2.

 

Sering saya bertanya “sebenarnya bekerja itu untuk apa?“. Setelah sekian lama bekerja kesana kemari, ada jawabannya yang saya temukan, yaitu “bekerja itu harus memiliki misi“. Ketika kondisi bekerja begitu menekan, kita yang tidak memiliki “misi” hanya akan kehilangan harapan dan semangat untuk tetap terus berjalan. Misi lah membuat kita memandang ke depan, bukan pada kondisi sekarang.

Perlunya manajemen file pada suatu kantor

Pikiran selama masa #cpns 1:

Jaman sekarang hampir setiap bidang melakukan pekerjaan menggunakan komputer. Terutama untuk mereka yang bekerja di kantor-kantor, baik itu pemerintahan ataupun swasta. Data yang awal mulanya ber-input dan ber-output bersifat manual dan tercatat, dengan masukknya era teknologi, hampir semua data berkutat pada bentuk-bentuk digital, baik itu berupa file-file yang bersifat office (docx, pdf, pptx, txt, etc), multimedia (gambar hasil dokumentasi atau video), ataupun software-software (seperti driver printer, antivirus, etc).

Namun meskipun kita sudah secara langsung bekerja dengan data bentuk digital tersebut, secara tidak sadar kita masih menerapkan pola lama terhadap file-file tersebut. Ingatkah ketika kita mengatur berkas-berkas secara manual dengan sembarangan? Apakah yang terjadi? Pastinya ketika kita memerlukan file tersebut hal yang terjadi kita akan sangat kerepotan menemukan file tersebut. Berapa banyak tenaga dan waktu yang diperlukan untuk satu file? Belum lagi permasalahan dalam sharing file tersebut ketika diperlukan oleh banyak orang? Sedangkan yang memiliki dan mengetahui file tersebut hanya 1 orang!

Di era teknologi informasi sekarang di mana informasi dalam bentuk data bergerak sangat cepat, bisa anda bayangkan jika dalam suatu kantor yang sehari-hari nya berkutat dengan laporan dan lain-lain dengan ratusan bahkan ribuan data digital tidak memiliki sistem manajamen file yang baik?

Dan di sini lah sebenarnya peran data center muncul!  Pusat data atau yang lebih dikenal Data Center adalah suatu fasilitas yang digunakan untuk menempatkan sistem komputer dan komponen-komponen terkaitnya, seperti sistem telekomunikasi dan penyimpanan data. Fasilitas ini biasanya mencakup juga catu daya redundan atau cadangan, koneksi komunikasi data redundan, pengontrol lingkungan (mis. AC, ventilasi), pencegah bahaya kebakaran, serta piranti keamanan fisik.

Banyak sebenarnya aplikasi Open Source yang bisa diterapkan untuk pengelolaan file ini, seperti bisa di lihat pada artikel berikut : 25+ Excellent Open Source Web File Manager to Explore & Share Files . Terutama bagi kantor-kantor yang belum bisa menyediakan secara khusus infrastruktur data center.

Dengan ada data center permasalahan yang muncul akibat banyaknya data digital ataupun masalah hak akses dapat dengan mudah teratasi. Permasalahnya untuk menerapkan suatu data center yang diperlukan bukan hanya permasalahan teknis seperti infrastruktur dan aplikasi untuk data center tersebut, tapi yang penting adalah mengubah pola orang-orang dalam suatu kantor untuk mau berubah, dan tentu saja inilah permasalah yang paling sulit untuk menerapkan Teknologi Informasi dalam suatu sistem.

*Ditulis ditengah-tengah kegalauan memikirkan usaha sampingan!*

 

pemikiran random

Lama tidak menulis, entah mengapa rasanya malas sekali.

Ada beberapa kejadian yang menarik selama ini yang menyita pikiran saya, mungkin tulisan ini sifatnya random yang tidak saling terkait dan terdiri dari point-point saja.

  • Saya telah selesai membaca buku “seseorang yang selalu mengikuti kata hatinya “. Biografi dari pendiri yayasan Slamet Riyadi dari Universitas Atmajaya Yogyakarta. Saya menjadi tahu dari sisi beliau mengenai bagaimana awal mulanya berdiri kampus tempat saya menimba ilmu mulai dari S1 hingga S2 serta permasalahan yang pernah di hadapi kampus saya. Pada point ini saya memiliki pemikiran bagaimana suatu yayasan dibalik suatu perguruan tinggi swasta sangat memiliki peran dalam mengembangkan universitas, dan semestinya orang-orang dibalik pengembangan tersebut harus benar-benar ‘care’ dengan misinya terhadap pendidikan, bukannya menjadikan lembaga pendidikan sebagai aset ekonomi untuk mengeruk keuntungan dari mahasiswa, ataupun menjadikan perusahaan keluarga, seperti pada prinsip beliau di dalam buku tersebut dalam menangani ‘masalah’ di UAJY, selalu-lah “serviens in lumine veritatis“.
  •  Akhir-akhir ini saya banyak menguji mahasiswa (proposal dan TA, terutama proposal). Dan permasalahan yang selalu saya temui ketika menguji TA adalah mahasiswa yang kurang paham apa yang dibuatnya. Ada celentukan yang tidak terlalu saya suka yaitu “kalau awalnya tempe masa keluarnya daging!”. Sebenarnya tujuan institusi pendidikan itu sebenarnya apa? Bukankah untuk men’tranformasi’ mahasiswa dalam proses-proses nya di dalam suatu lingkup lembaga pendidikan menjadi manusia yang lebih berpengetahuan , mandiri, dan humanis. Nah jikalau yang awal masuk adalah tempe kemudian keluarnya tetap tempe, terus yang salah ada dimana? Apakah pada inputan awal yang tempe atau pada proses pengolahannya? Bukankah sekarang ada “tempe rasa daging”?
  • Saya ingin kembali mengaktifkan hobi saya di fotografi, terutama mengenai essay foto dan foto hitam puith dengan RAW. Oh ya, saya sekarang sedang mencoba dry box sendiri, semenjak kasus body kamera saya berjamur kemarin dulu.
  • Ada 3 website yang coba saya kembangkan 3 bulan terakhir ini, yang pertama adalah website berbasis pyroCMS, kemudian website berbasis wordpress untuk toko online dan company profile.
  • Saya juga sedang belajar untuk memperdalam ilmu dalam bidang desain dengan photoshop seperti untuk editing foto, desain banner,dan lain-lain
  • Saya mencoba menyelesaikan bacaan dari ebook novel hasil download berupa “Benteng Digital” Dan Brown, mungkin kemudian dilanjutkan dengan dwilogi dari Andrea Hirata.

Mau bikin majalah online dan penelitian

Ada rencana untuk membuat sebuah majalah online yang membahas tentang dunia IT sekaligus dunia kampus tempat kerja. Masih memikirkan konsep ataupun format konten apa saja yang ingin di masukan dalam majalah online tersebut. Masih mencari software yang mudah digunakan untuk membuat layout majalah online, setelah searching banyak yang rekomendasi untuk menggunakan Adobe InDesign. Sekarang masih cari software bajakan-nya.

Sementara itu untuk masalah penelitian, ada beberapa ide penelitian yang ingin dilakukan tentu saja berkaitan dengan mobile computing, web, dan data mining.

*mencoba posting blog tiap hari, dan mulai berlatih rajin menulis*