Kepala Sekolah Baru

Kukuruyuk….kukuruyuk…kukuruyuk…ayam berkokok dengan semangat sekali menandakan pagi datang.

Okli…ayo kita mandi!!! Seru memo dari rumah sebelah.

Rumah okli dan memo bersebelahan dan hanya berjarak 1,5 meter.

“ ayo” jawab okli.

Ditengah jalan mereka berdua bertemu dengan ado, tewong, dan usuf yang juga pergi mandi di sungai Kahayan. Mereka semua bergegas pergi kesungai, sesampai disana mereka langsung mandi.

“Brrreee….dinginnya”. kata tewong sambil menggigil.

Mereka mandinya gak lama, bahkan tewong dan ado tidak pake sabun karena kedinginan. Mereka semua berjalan pulang menuju kerumah masing–masing untuk bersiap pergi kesekolah.

“ kli, mamah udah masak oseng rebung kesukaan kamu sama teh hangat diatas meja tuk sarapan” seru ibu.

“Iya mah tar okli makan setelah pasang baju seragam dulu”.

Setelah memasang baju seragamnya, okli langsung sarapan dan selalu tidak lupa berdoa sebelum makan. Selesai makan okli langsung mengambil tas bersiap–siap untuk pergi kesekolah. Ia pamit dengan kedua orang tuanya, kecuali kakaknya jarang sekali ia pamit karena kakaknya selalu bangun kesiangan. Dengan tidak pake sepatu okli berjalan dengan semangat lalu memanggil teman–temannya untuk pergi kesekolah bareng.

“memo…, ado…, niot…aku udah nunggu kalian semua di jalan ni” kata okli memanggil teman–temannya.

Satu persatu temannya keluar, ada yang tidak pake dasi, ada yang tidak pake topi, ada yang tidak bersepatu seperti okli, dan ada pula tasnya yang di buat dari kantong plastik. Walaupun tidak seperti kebanyakan orang kota yang memakai semuanya serba lengkap, mereka tetap senang dan selalu bersemangat sekolah. Mereka berjalan menuju sekolah sambil bercandaan di jalan. Lalu,

Teng….teng…teng…

Bel berbunyi yang bertanda murid kumpul untuk melakukan baris berbaris dan berolah raga. Mereka langsung lari menuju kelas, untuk meletakkan tas lalu menuju barisan sesuai dengan kelasnya masing-masing. Didepan barisan sudah ada komandan yang memimpin barisan supaya barisan cepat rapi. Barisanpun sudah rapi, waktunya guru piket berbicara untuk menentukan kelas berapa yang akan menjadi instruktur senam.

“Hari ini anak–anak kelas enam yang akan menjadi instruktur senam, buat anak–anak kelas enam saya persilahkan maju 6 orang kedepan”. Seru guru piket.

“ cindi, okli, niot, krisna, aja, dan yono…kalian berenam aja ya yang mewakili kelas kita!!! Kata jefri selaku ketua kelas mereka.

Mereka semuapun maju kedepan, dan mulai menggerakkan badan mereka diiringi lagu senam. Walaupun kondisi lapangan tidak mendukung karena sangat becek itu tidak membuat semangat siswa siswi disitu hilang. Akhirnya senam pagipun selesai, anak–anak instruktur senam kembali ke kelas masing–masing. Komandan barisan kembali mengatur barisan.

Sii….aaapppp…..Grak……..!!!!

Istirahat…. Di… tempa…. Grak…..!!! Teriak komandan barisan dengan tegas.

“anak–anak…hari ini kita kedatangan ibu kepala sekolah yang baru dari kota, waktu dan tempat saya persilahkan ibu kepala sekolah untuk memperkanalkan diri”. Seru guru piket.

“Selamat pagi anak–anak….” Sapa ibu kepala sekolah dengan ramah.

“selamat pagi buk….” Jawab anak murid dengan serentak.

“ya… pagi ini ibu sangat senang sekali bisa berada disini bersama anak–anak”. Perkenalkan nama saya ibu Murnie, saya akan menjadi kepala sekolah kalian yang baru disini. Dan saya sangat berharap sekali bisa meningkatkan kualitas SD di desa in. Demikian perkenalan dari saya, saya ucapkan terimakasih.

Tap…tap…tap…!! Suara sorakan anak–anak menyambut kedatangan kepala sekolah baru.

Komandan barisanpun membubarkan barisan, anak–anak berlari kekelasnya masing–masing. Di kelas anak–anak pada ngumpul ngomongin kepala sekolah baru.

“Okli, kalau gak salah kepala sekolah yang baru itu tante mu kan???”. Tanya memo.

“Iya kli, kayanya aku sering liat dia berkunjung kerumah kalian…” sela ado.

“ iya, itu tante ku adik ipar nya mamah ku…tapi…aku gak tahu kalau tante jadi kepala sekolah disini”. Jawab okli dengan bingung…

Guru…guru…datang…!!! Teriak anak–anak yang lain.

Semua anak–anak kelas enam langsung duduk ke kursi masing–masing, dan ibu gurupun memulai pelajaran matematika. Mata pelajaran berlangsung dengan baik, dengan respon yang sangat positif dari anak–anak. Keadaan bangunan sekolah yang hampir dikatakan tidak layak dihuni tidak membuat patah semangat anak–anak. Tak terasa bel pulang telah berbunyi. Okli menyiapkan buku–buku untuk dimasuk kedalam tas. Okli dan teman–temannya melangkahkan kaki, muka yang selalu ceria membuat panasnya terik matahari terkalahkan dan panasnya kaki yang menginjak jalan yang berbatu karena tidak memakai sepatu tak terasakan. Satu persatu mereka sampai dirumah masing–masing.

Oklipun langsung mencuci kakinya yang kotor di krayan ( dapur orang dayak), ia sangat tidak sabar sekali ingin memberitahukan ke keluarganya bahwa tantenya menjadi kepala sekolah baru di sekolahnya. Ia langsung berjalan menuju dapur, karena keluarganya menunggu dia untuk makan. Seperti biasa, sebelum makan keluarga okli selalu berdoa mensyukuri rahmat Tuhan.

“mah, tante murni itu sekarang jadi kepala sekolah okli yang baru lo” kata okli.

“iya…mamah dan yang lainnya udah tahu kok, cuman kami gak bilang–bilang okli aja biar jadi kejutan gitu…”. Jawab ibu okli dengan ramah.

“ oh…gitu ya mah, trus tante tinggal di tempat siapa disini??? Tanya okli penasaran.

“ Ya iyalah dirumah ini okli, kan ini tempat kakek mu” sela papahnya okli.

“wah, kalau gitu okli harus lebih giat nih belajar…kalau okli malaskan entar diliat tante…malu donk okli”. Seru okli dengan muka yang penuh semangat. Semuanya pada tersenyum melihat semangatnya okli, yang begitu ingin menunjukkan kepada tantenya bahwa iya juga bisa seperti orang kota. Tak lama dari itu, tante okli datang dengan membawa 1 tas barang. Lalu,

“ sudah pada makan semuanya?” Tanya murni

“ sudah….” Jawab kakek. “ oh, ku pikir masih makan. Masalahnya saya ada bawa makanan tadi dari kota”. Kata murni.

Okli sangat pingin tahu sekali apa alasan tantenya mau di tugasi ke desa, yang kehidupannya serba sulit tidak seperti di kota. Maka dengan nada yang sangat penasaran iya menanyai tantenya.

“ tante, bolehkah okli menanyai sesuatu???”

“ Boleh, kenapa tidak…okli mau nanya apa???” jawab murni dengan bijaksana. Segera okli mengajukan pertanyaannya. “ Tante kok mau sih di tugasi di desa, kan disini kehidupan serba sulit. Tidak seperti di kota, mau makan apa saja semuanya ada, mau mandi tinggal hidupi air. Nah…sedangkan disini, kebalikan dari yang di kota.”

Murni lalu tersenyum dan mulai menjawab pertanyaan okli. “ Tante tuh di tugasi disini untuk membangun kualitas SD di desa ini, kualitas SD di desa ini sangat buruk sekali bahkan menduduki posisi paling bawah. Karena itu, tante di tugasi dari dinas pendidikan supaya lulusan tahun ini bisa lulus dengan mengikuti standar SD yang lain dan bahkan kalau bisa yang menempati posisi atas”.

“oh…gitu ya tante, pantasan tante mau bela–bela in datang kesini”. Kata okli sambil menganggukkan kepalanya.

by vivi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s