bertaruh tentang hidup

Setelah saya pikir-pikir saya ini banyak bertaruh dalam hidup, padahal yang saya taruhkan ini adalah hal-hal yang bakalan mempengaruhi jalur hidup saya, meskipun saya adalah orang yang benar-benar memperhitungkan dalam mengambil setiap tindakan, pada akhirnya ketika saya dihadapkan pada masalah yang sepertinya tidak ada pilihan yang benar-benar baik ataupun buruk, saya hanya mengikuti kata hati.

Contoh pertama taruhan hidup ini adalah ketika saya berada di semester akhir kuliah saya, taruhannya adalah antara saya harus mengulang beberapa matakuliah agar mencapai IPK ideal yang saya inginkan, atau langsung mengambil skripsi dengan mempertaruhkan jika nilai skripsi saya tidak A, maka saya tidak mencapai nilai ideal tersebut. Tentu saja kelihatannya pilihan kesatu adalah ‘jalan aman’, tapi saya mengikuti kata hati dengan mengambil pilihan kedua, pilihan dengan resiko besar, dan pada akhirnya nilai ideal tersebut tercapai juga, walaupun saya memiliki keraguan besar, bahkan setelah dinyatakan lulus ujian skripsi saya sempat hopeless sendiri ketika menghitung nilai IPK yang hasilnya tidak mencapai nilai ideal, dan ternyata saya salah hitung 😀 .

Contoh kedua dan sampai saat ini saya belum melihat akhirnya seperti apa adalah saat saya beberapa kali istilah-nya ‘menolak’ pekerjaan, untuk mempertahankan posisi saya sekarang. Walaupun pekerjaan menggiurkan, bahkan oleh beberapa (mungkin banyak) orang menyayangkan pilihan saya. Saya mengundurkan diri ketika telah lolos test CPNS di daerah saya, dan saya men”cancel” ketika sudah pada tahapan wawancara di bank, dan lain-lain. Entahlah mengapa saya melakukan tindakan itu, pada akhirnya saya cuma mengikuti kata hati yang mendorong saya untuk bertahan pada posisi saat ini walaupun untuk di depannya masih sangat kabur.

Manusia seringkali merasa mampu merancang hidupnya, padahal banyak peristiwa dan kejadian yang berada di luar kendali kita, sehingga kita harus memutar alur pemikiran dan rencana kita. Sebagai manusia, kita benar-benar tidak tahu sesungguhnya kemana dan arah tujuan kita. Namun tanpa tujuan hidup, kita ibaratnya robot, hidup hanya menghabiskan waktu dan mengerjakan rutinitas.

Jadi apakah manusia memang punya tujuan hidup? dapatkah manusia menemukan tujuan hidupnya?

Jika di bawa kesisi rohani, jawabannya pasti setiap manusia itu dilahirkan dengan suatu tujuan di dunia ini. Jadi seolah-olah manusia itu digerakkan oleh yang DIATAS, seperti boneka yang dikendalikan oleh yang DIATAS, jadi masihkah manusia memiliki ‘tujuan sendiri’?

Tapi saya pikir, siapakah kita sehingga kita berhak menggugat yang DIATAS…

Seandainya kita diinginkanNYA hidup miskin atau menderita demi suatu tujuan yang itu adalah bukan tujuan kita, nampaknya kita juga tak berdaya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s