perahu kertas

prolog

Kata-kata di bawah ini saya kutip dari novel perahu kertas – dee, kata-kata yang saya anggap menarik. Novel ini secara garis besar bermain pada kata cinta.

Saya sebenarnya kurang memahami apa sebenarnya cinta itu, dulu saya pernah jatuh cinta, tapi itu ibarat melihat sebuah bintang jatuh, sekelebat mata menghilang, tanpa saya bisa melakukan dan mengerti apa-apa. Dan hingga kini saya belum menemukan satu sosok yang bisa membuat saya jatuh cinta lagi.

Di lain sisi novel ini juga menceritakan pencarian identitas manusia, semacam lentera jiwa. Kita ingin melakukan pekerjaan yang kita senangi dan impikan, tapi ketika kita di hadapkan pada realita hidup, nggak semudah itu menjalankannya.

Novel ini saya baca ditengah kejenuhan saya di kota ini, mengisi hari-hari yang entah mengapa di kota ini tidak begitu menarik, sedangkan alur ceritanya mengingatkan saya akan beberapa peristiwa lalu, meskipun berbeda tapi tetap mengena untuk membangkitkan memori masa lalu. Mungkin saya membacanya tidak terlalu fokus, bahkan mulai halaman 317 saya membacanya dengan ‘cepat’.

Jadi sebenarnya cinta itu sederhana, hanya orang & keadaan lah yang membuatnya menjadi susah

 

Kata

Ia lalu mengangkat bahu, “Mungkin harus dengan cara yang kamu bilang dulu. Berputar menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.”

…………………………………..

Keenan seolah terempas ke lorong waktu. Semua ini terasa seperti dejavu. Ia mengenal adegan ini. Malam Minggu,
tempat yang sama, mesin popcorn yang sama.

…………………………………..

“Kamu hebat,” decaknya, “itu memang keajaiban. Saya bisa merasakan, anak-anak tadi nyaman banget dengan diri
mereka sendiri. Kamu berhasil memancing karakter mereka keluar. Mereka jadi percaya diri, punya harga diri. Punya kebanggaan.”

…………………………………..

Keenan hanya nyengir sambil mengusap-usap kepalanya sendiri, “Gua juga nggak ngerti ini gila atau malah waras. Yang jelas, inilah rasanya hal paling benar yang pernah gua lakukan.”

…………………………………..

Nasi bisa dibeli, tapi rasa percaya? Seluruh uang di dunia ini tidak cukup membelinya, pikir Keenan getir.

…………………………………..

Keenan menamakannya “tawa pengampun”, karena layaknya matahari yang tak menyimpan memori ataupun dendam dansenantiasa memandikan Bumi dengan sinarnya, tawa itu pun membawa efek yang sama bagi dirinya. Kehangatan yang lahir tanpa pretensi. Tanpa perlu usaha. Pengampunan murni.

…………………………………..

Tanpa kekosongan, siapa pun tidak akan bisa memulai sesuatu

…………………………………..

Kenangan itu cuma hantu di sudut pikir. Selama kita cuma diam dan nggak berbuat apa-apa, selamanya dia tetap jadi hantu. Nggak akan pernah jadi kenyataan.

…………………………………..

“Ikuti saja kata hati kamu. Ke mana pun itu. Hati tidak bisa bohong,” ucapnya lirih, “kalau memang kamu tidak kembali, saya mengerti.”

…………………………………..

“hati kamu mungkin memilihku, seperti juga hatiku selalu memilihmu. Tapi hati bisa bertumbuh dan bertahan dengan pilihan lain. Kadang, begitu saja sudah cukup. Sekarang aku pun merasa cukup.”

…………………………………..

Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.

…………………………………..

Di angkasa … di awan… di jalanan … semua memori dan perasaan seolah berlomba-lomba untuk bangkit. Walaupun kini kemungkinan untuk bertemu Kugy jauh lebih besar, tetap Keenan tidak menginginkannya. Sedapat mungkin tidak
menginginkannya.

…………………………………..

“De, sejujurnya, apakah itu menyerah, atau justru bertahan… Poyan tidak pernah tahu. Bahkan sampai hari ini. Apakah ini menyerah namanya? Barangkali betul begitu. Tapi dalam apa yang disebut menyerah, Poyan terus bertahan. Poyan tidak tahu. Tapi hidup yang tahu.”

…………………………………..

“Kugy, kepala kamu akan selalu berpikir menggunakan pola ‘harusnya’, tapi yang namanya hati selalu punya aturan
sendiri,” kata Karel sambil tersenyum. “Ini urusan hati, Gy. Berhenti berpikir pakai kepala. Secerdas-cerdasnya otak
kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. Dengerin aja hati kamu.”

…………………………………..

Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya.”

…………………………………..

Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh

…………………………………..

Dan hari ini, ia memutuskan untuk pergi bersama angin. Bebas, seolah tanpa tujuan. Namun, angin selalu bergerak ke satu tempat.

…………………………………..

Perahu Kertas – Dee

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s