keputusan ku…

Tadi (16.00 ~ selesai) saya baru saja selesai wawancara langsung dengan supervisor salah satu bank swasta di daerah saya. Tentu saja untuk mengisi sebuah lowongan kerja.

Ketika saya di suruh duduk di ruang tunggu, yang sepertinya juga sebagai ruangan rapat, yang saya perhatikan adalah whiteboard yang ada di ruangan tersebut, yang kebetulan penuh dengan coretan. Setelah saya perhatikan benar2 terdapat tulisan yang menggunakan istilah2 ekonomi, tentu saja yang intinya ‘model pengejaran target’.

Dengan ruangan yang full AC, dengan cepatnya tangan ini menjadi ‘membeku’. Kemudian datang mbak yang lumayan ‘ehm’ 🙂 , menyuruh saya mengisi sebuah formulir lamaran. Yeah dengan isian standar “tahu sendiri lah” , tapi ada sesuatu yang nggak saya terlalu suka ketika memasukan data formulir tersebut adalah isian mengenai suku, eh sejak kapan hal-hal SARA mempengaruhi kualitas kerja seseorang? Jadi saya isi formulir itu seadanya saja. Ketika sudah selesai, mbak yang lumayan ‘ehm’ 🙂  tadi, menyuruh saya untuk langsung menemui supervisor.

Dan proses wawancara pun berlangsung, yeah pertanyaan standar, “alasan kenapa anda mau masuk disini?” ya, seperti itulah…

Akhir-akhir sepertinya malah saya yang nanya-nanya ama supervisor-nya 😛 , tentang sistem kerja, model kerja, waktu kerja, kontrak kerja, dan sebagai nya. Dari awal memang posisi lowongan ini tidak sesuai dengan bidang saya, terlalu jauh menyimpang walaupun yang di hadapi sama yaitu komputer.

Dari semua pertanyaan superisor, saya jawab apa adanya, bahwa saya memang spesialis-nya di dunia IT, saya ingin melanjutkan S2, etc.

Akhirnya setelah dari berbagai sisi pertimbangan, setelah ‘sesi omongan’ yang sebentar tadi, akhirnya supervisor bertanya “gimana mas-nya apa mau lanjut? ”

“……….. ” saya terdiam. Otak ini berputar untuk mencari segala kemungkinan yang akan terjadi apabila saya menjawab “ya”, tentu saja bukan untuk saat ini, tapi ke masa depan, saya kembali teringat akan mimpi dan janji saya setelah lulus kuliah dulu.

Akhirnya, saya menjawab “stop aja bu…”. Ya, itulah keputusan saya.

Saya masih memegang mimpi dan janji saya dulu, mungkin kelihatannya saya terlalu idealis, atau mungkin terlalu naif, apalagi di tengah-tengah hidup di Indonesia yang katanya ‘mencari kerja itu sulit sekarang…’ .

Biarlah saya memegang mimpi dan janji itu selama saya sanggup, meskipun awalnya saya harus merelakan banyak kesempatan dan penuh derita, tapi demi lentera jiwa ku, demi mimpi ….

………..

tapi apapun yang terjadi
akan kujalani
akan kuhadapi dengan segenap hati

walau ku terluka
memang ku terluka
tak pernah ku lari dari semua ini

…………

Sheila On 7 – Jalan Terus

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s