beda mahasiswa?

Tadi siang setelah saya selesai memberi materi kuliah dan kelas mulai kosong, ada seseorang mahasiswa bertanya kepada saya “pak, bedanya mahasiswa sini (daerah saya mengajar sekarang tentunya) dengan mahasiswa di jawa apa pak ?”. Kelihatannya pertanyaan sederhana saja, tapi secara tidak langsung membuat saya untuk merenung dan akhirnya menulis ini.

Kembali ke pertanyaan mahasiswa tadi, saya hanya bisa menjawab seadanya, tentu saja yang saya ungkapkan bahwa mahasiswa di jawa memiliki fasilitas, akses untuk pendidikan lebih baik,  karena saya berasal dari universitas swasta yang memiliki nama besar, tentu saja pelayanan untuk fasilitas mahasiswa (laboratorium, perpustakaan, etc) di utamakan. Fasilitas di sini tentu saja termasuk SDM yang disediakan, semisalnya seperti saya yang masih bergelar S1 tapi sudah menyandang panggilan ‘dosen’, tentunya berbeda dengan universitas yang mewajibkan pendidik -nya harus bergelar S2. Tapi mengikuti pameo teman saya di kampus “Jikalau menunggu dosen S2 semua, kapan majunya di daerah ini…”.

Masalah kesenjangan fasilitas ini lah yang saya pikir menjadi momok yang menghantui bukan saja universitas negeri tapi juga swasta di daerah, begitulah akibat pembangunan yang tidak merata orde baru dulu. Tapi saya melihat banyak juga universitas kecil di jawa yang kekurangan fasilitas pendidikan. Jadi jika mengajukan argumen ‘fasilitas pendidikan’ kelihatannya jawaban menjadi abu-abu, banyak saya lihat orang-orang yang kekurangan fasilitas tapi dia bisa berhasil.

Kedua saya jawab dengan kebiasaan, kemudian mahasiswa itu balik bertanya “Mahasiswa di sini kebiasaannya buruk ya pak?”, eh, mungkin selama ini saya menilai dari sisi yang cenderung negatif karena saya masih orang baru dalam dunia mengajar terutama untuk ‘model’ mahasiswa di daerah saya, tapi setelah saya pikir-pikir kemudian saya menjawab “nggak kq, mahasiswa di jawa juga ada yang kebiasaannya buruk,  jadi itu tergantung dari orangnya…”. Kembali jawaban saya abu-abu.

Saya lihat semuanya menjurus ke satu arah, yaitu tergantung dari orangnya atau individu tersebut, apakah dia memang berniat ingin maju atau pasrah menerima keadaan.

Tapi tentu saja faktor keadaan lingkungan individu juga ikut menentukan. Selama saya kuliah, saya menilai faktor lingkungan pergaulan kampus sangat menentukan perilaku mahasiswa, seperti lingkungan kampus saya (anggapan pribadi) yang sangat terlihat persaingan antara mahasiswa untuk maju, untuk mendapatkan ilmu yang lebih, sehingga mau tidak mau saya terbawa arus. Selebihnya saya nilai, rasa ‘interest’ mahasiswa terhadap bidang yang dia tekuni juga ada adil besar, mahasiswa yang memiliki ‘interest’ tinggi pastinya menggali lebih dalam sendiri ilmu bidangnya, tanpa hanya terima yang diberikan dosennya saat kuliah.

Ada juga yang saya lihat salah adalah pola pikir. Ada yang saya sebut pola pikir ‘manja’, dengan pola jelek ini mahasiswa kehilangan berpikir kritisnya, asal terima saja, mau gampangnya saja, membuat mahasiswa asal kuliah cuma ingin mengejar gelar tanpa memperhatikan kualitas ilmu yang di perolehnya. Seperti halnya masalah buku referensi buat mahasiswa yang bisa saya bilang langka untuk daerah saya, tapi bukankah sekarang sudah ada internet? Tapi entah kenapa sepertinya banyak yang saya lihat malas untuk menggali ilmu di internet.  Akses internet mahal? Bukannya untuk pulsa handphone perbulan ada yang mengeluarkan uang ratusan ribu, atau bukankah tiap hari online di facebook? atau berapa banyak yang dihabiskan sebulan untuk bermain game online?

Tapi bukankah yang membentuk pola pikir seseorang itu adalah lingkungannya?

Jadi, ini ibarat katak dalam tempurung, semua tergantung apakah katak itu mau diam terus dalam tempurung yang mengurung dirinya, ataukah dia mau berusaha atau berontak keluar dari tempurung.

NB:

  • Kalau saya pikir, saya bukanlah orang yang suka mengajar orang lain, saya sekarang mengajar karena keterpaksaan keadaan. Semenjak kuliah, saya selalu berusaha menghindar mengajar orang lain (saya tidak pernah mengajukan diri jadi asisten dosen), hal ini lebih disebabkan karena saya orang yang tidak banyak omong atau pendiam, dan saya anggap seorang pengajar adalah orang yang pandai bicara. Tapi selebihnya karena keterpaksaan keadaan juga, selama kuliah saya memang ada menjadi tentor kecil-kecilan berdasarkan apa yang saya mampu (untuk mahasiswa, guru ~ waktu ikutan Kelompok Studi Linux, dosen ~ waktu jadi student staff kampus).
  • Tidak pernah terlintas sedikit pun di pikiran saya untuk menjadikan dosen sebagai pekerjaan tetap. Mengajar itu melelahkan jiwa dan otak (bagi saya). Saya lebih merasa aman menjadi orang yang menerima ilmu dibandingkan yang memberikan ilmu.
  • Pernahkah saya bertanya seperti mahasiswa ini? tapi tentu saja dalam konteks yang beda. Tidak pernah kepikiran oleh saya dulu. Saya jadi ingin mengulang waktu dan bertanya ke dosen pembimbing 2 skripsi saya dulu yang baru saja menyelesaikan kuliah S2 -nya di Jerman. “Apakah bedanya mahasiswa Indonesia dengan luar negeri?”
  • Saya hanya beruntung dulu di kuliahkan di tempat yang ‘baik’. Malah karena saya terlalu malas atau terbuai suasana, waktu lulus saya bisa terbilang lama dan dengan nilai ‘pas-pasan’ 😦 .
  • Apakah saya ingin melanjutkan kuliah saya lagi? Tentu saja, ini salah satu impian saya selama menjadi mahasiswa semester akhir. Untuk apa kuliah lagi? ya untuk ilmu baru lagi, untuk menjadi mahasiswa lagi 🙂 .
Iklan

2 pemikiran pada “beda mahasiswa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s