saya “independent thinker” ?

Saya sedang lelah, malam kemarin saya susah tidur, saya tidur 01.30 dini hari, itu juga karena saya paksa kan untuk tidur. Paginya sekitar jam 07.30 hingga 10.00 saya jadi tukang foto untuk mendokumentasikan acara yudisium di salah satu universitas negeri di kota saya.

Siangnya tiba-tiba saya menerima telepon yang memberitahukan adanya lowongan kerja di bank dengan batas penyerahan berkas lamaran besok pagi. Jadi dengan tergesa-gesa menyediakan berkas. Ketika ke rental pengetikkan untuk print surat lamaran dan CV saya berkenalan dengan pemilik rental pengetikkan tersebut, banyak yang kami bicarakan, intinya dia memilih sebagai seorang wiraswasta (beberapa waktu dia pernah bekerja di perusahaan konstruktur), tipe orang yang independent huh? Walaupun usahanya kecil.

Berbicara dengan orang-orang seperti ini saya kira banyak gunanya, membuka pemikiran sepertinya, saya tidak bisa menulis banyak tentang ini *saya lagi pusing karena kelelahan 🙂 *.

Tadi saya asal surfing secara asal, dan ketemu ini (eh, ini termasuk sistem pakar nggak ya? 🙂 alah, ngomongin kuliah lagi. Dan hasilnya adalah:

Your Type: The Independent Thinker

Independent Thinkers are analytical and witty persons. They are normally self-confident and do not let themselves get worked up by conflicts and criticism. They are very much aware of their own strengths and have no doubts about their abilities. People of this personality type are often very successful in their career as they have both competence and purposefulness. Independent Thinkers are excellent strategists; logic, systematics and theoretical considerations are their world. They are eager for knowledge and always endeavour to expand and perfect their knowledge in any area which is interesting for them. Abstract thinking comes naturally to them; scientists and computer specialists are often of this type.

Independent Thinkers are specialists in their area. The development of their ideas and visions is important to them; they love being as flexible as possible and, ideally, of being able to work alone because they often find it a strain having to make their complex trains of thought understandable to other people. Independent Thinkers cannot stand routine. Once they consider an idea to be good it is difficult to make them give it up; they pursue the implementation of that idea obstinately and persistently, also in the face of external opposition.

As an Independent Thinker, you are one of the introverted personality types. That is one of the reasons you prefer to work alone. This does not mean that you cannot be successful in a team, as well. For you, the task is most important and people who are involved come second. The contact with others, the necessity to adjust yourself to their daily changing sensitivities – all of it is just more gratuitous emotion that keep you from totally devoting yourself to those things that truly interest you: analyzing systems and policies, researching potentials for change, developing new ideas and implementing them in reality.

Here you differ from the second introverted Thinker type, the Analytical Thinker: You truly enjoy implementing your concepts and you enjoy the results. Therefore you should look for a work environment where you can accompany and expedite your ideas through to their conclusion. You consider difficult situations as challenges that really try your creativity and you frequently surprise people around you with genuinely incredibly bright ideas, rendering others speechless with their excellence. Your world consists of statistics, legitimacy, and systematics.

Considering all of this, your Thinker type is very praxis-oriented, and by no means lives on an intellectual ivory tower. You are not interested in theories not related to reality. As in chess, you are excellent at predicting the consequences of your methods in advance, and then choosing the appropriate alternative. Once you have made your decision on how to deal with a situation, you are totally willing to use your elbows and you don’t necessarily show any consideration for others. With that, you occasionally encounter resistance from other, less task-oriented colleagues that you quickly brush aside.

You resent routine jobs or monotonic order of events. You believe that they smother your creativity. If necessary, your determination and unusual ambition will convince you to acquiesce to the inevitable. Nevertheless, when choosing your profession, you should be mindful that your working environment is going to provide you with something new to learn and that your tasks are as varied as possible. Your strength lies in solving novel problems and not working on details. Nor should your curiosity ever be satisfied; just as fresh information is as important to you as the air you breathe, so is the feeling that you continuously expand and increase your competencies. An activity where you do the same thing in the same department with the same colleagues for 20 years is the worst fate that can possibly happen to a hungry mind.

Bagus juga ya hasilnya :p , yang bagus di iyakan aja :rool: ,walaupun cuma question-nya hanya beberapa step.

Nulis apaan lagi ya? Udah ajalah daripada entar ngelantur ke sana kemari *like random sentence huh? 🙂 *

Iklan

setiap selasa

Setiap hari selasa semester ini adalah hari libur ku, hari selasa adalah hari dimana tidak ada aktifitas mengajar. Saat-saat seperti inilah aku merasa bebas. Seperti saat ini ketika aku posting di blog ini sambil di temani segelas teh, dengan perhatian terbagi menjadi tiga, antara surfing buka-buka website dan blog, memperhatikan transfer data komputer cebero ku yang sudah mulai over kapisitas isi harddisk (mulai bermasalah bad sector), sekali menulis di blog ini.

Saat bebas seperti ini adalah saat perenungan bagi ku, dengan membaca blog-blog orang yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari kadang memberikan suatu makna yang bisa berharga dalam menjalani hidup ku sendiri, seperti sebuah pembelajaran, seperti membaca sebuah cerita.

Baru saja ada tawaran untuk menjadi ‘tukang foto’ disebuah event di universitas negeri di kota ini dan juga tawaran untuk membuat foto produk perhiasan. Saya jadi bingung untuk menentukan harga untuk hal-hal seperti ini, kadang sama bingungnya untuk menentukan ‘harga jasa’ saat saya menjadi konsultan kecil-kecilan untuk bidang saya yaitu IT.

Tapi bukahkan seorang pebisnis harus berani menentukan tarif atas jasa yang dilakukan? Ya, saya harus banyak belajar untuk bergerak di bidang swasta ini, dengan latar belakang nol untuk dunia bisnis banyak yang harus dikejar dan dimengerti.

tulisan yang campur-aduk kan? 🙂

lelah

sendiri

Beberapa hari lalu hingga hari ini, saya begitu lelah, terlebih hari sabtu kemarin. Tidur saya tidak nyenyak dan sering terbangun, saya merasa gelisah dan ingin pergi ke suatu tempat.

Dari hari jumat lalu, saya mengunjungi makam ayah saya yang terletak di desa dengan kendaraan bermotor, melewati jalan panjang yang sepi, melintasi hutan dan sebagian jalan masih belum di aspal. Kunjungan pertama saya untuk tahun ini, sekaligus untuk peringatan Jumat Agung dan Paskah.

Hari sabtunya saya mengajar untuk 3 sesi matakuliah yang di lanjutkan malamnya dengan mendatangi makam kakek saya hingga pukul 21.00. Malamnya saya merasa begitu lelah, tapi saya rasa lelah ini bukan hanya fisik tetapi pikiran juga.

Kadang saya merasa ingin bebas seperti burung di angkasa, bebas kemana saja….

*foto diatas adalah pemandangan jalan di desa tempat ayah saya dimakamkan*

#474 – IT?

Tengah malam ini lagi sibuk mencoba-coba bahasa pemrograman java untuk input output stream. Sepertinya saya kebanyakan lupa tentang pemrograman java ini, mungkin karena saat akhir semester waktu saya kuliah dulu saya lebih konsen ke pemrograman web (PHP, CSS, sedikit javascript dan JSP) sehingga pemrograman aplikasi desktop banyak lupa 😀 .

Kemudian terlintas sekilas sebuah pikiran, kenapa blog ini tidak ada tulisan mengenai IT-nya (programming, networking, atau apapun yang berbau komputer dan anak-anaknya)? Padahal bidang saya adalah IT dan sekarang pun mengajar tentang IT.

Bukannya saya pelit berbagi ilmu sehingga tidak mau mengisi blog ini dengan tulisan IT, terlebih untuk saya yang banyak mengambil ‘ilmu’ IT dari internet, saya sadar berbagi ilmu itu sangat perlu 🙂 .

Tapi nulis IT itu berat, terlebih jika berhubungan dengan sesuatu pekerjaan yang saya lakukan saat ini, seakan-akan saya tidak lepas dan bebas, dalam kata lain IT ini menjadi beban saya.

Itulah mengapa blog ini lebih banyak fotografi-nya, tentu saja karena dalam dunia fotografi ini saya lebih merasa bebas tanpa beban.

Entah mengapa saya merasa demikian. Mungkin nanti jika saya menemukan pola hidup saya dan saat itu IT ini bukan lagi beban yang mengukung, saat saya merasa bebas, saat itulah saya mulai menulis tentang IT lagi,  semoga 😀 .

pergi – into the wild

Pernah baca buku into the wild atau nonton film-nya kan? Sebuah kisah yang dibuat berdasarkan cerita nyata dari hidup seorang pemuda Christopher Johnson McCandless. Cerita seorang manusia yang benar-benar ku anggap berani walaupun akhirnya mungkin aku anggap agak tragis.

Orang yang benar-benar berani mengambil pilihan hidupnya tanpa gentar. Meninggalkan kehidupan sosialnya, menyumbangkan sebagian besar uangnya untuk amal, dan membakar yang tersisa kemudian. Mencoba hidup tanpa uang dan kontak terhadap manusia, mencoba bertahan di dunia liar. Saya hanya pernah membaca bukunya ketika pertengahan waktu jaman kuliah dulu. Kadang saya bertanya dalam hati apakah yang menyebabkan manusia McCandless mengambil pilihan hidup seperti ini?

Memang saya akui kehidupan sosial sekarang, terlebih saat ini yang ku rasakan, kadang sangat membosankan, terlalu banyak topeng yang di pakai orang-orang, terlalu banyak hal materialistis yang dikejar, dan kadang aku juga terlarut di dalam dunia yang semakin carut-marut ini. Entahlah, kadang saya merasa kehidupan di desa jauh lebih simple dibandingkan kehidupan di kota. Kadang pendidikan yang seharusnya membebaskan manusia, malah mengukungnya.

Kadang ada perasaan diri ingin pergi dan mengembara ke segala tempat hanya dengan sepeda serta kamera, mencoba merekam kehidupan bebas dalam lembaran-lembaran foto tanpa keterikatan hidup sosial, dunia kerja, dan segala hal lainnya.  Tapi saya akui sendiri, memilih jalan hidup seperti itu tidak lah mungkin, di sisi lain diri saya malah cenderung untuk hidup teratur dan aman, lagipula saya bukanlah ‘manusia berani’ seperti McCandless.

Apakah hidup seperti McCandless itu sia-sia? Ah, menurut saya tidak sama sekali, jangan terlalu sering menilai sesuatu dari yang kelihatan, karena menurut saya McCandless mengejar suatu ‘kebenaran’ dengan caranya sendiri, inilah mengapa saya sebut dia sebagai manusia pemberani.

Dari tulisan di akhir hidupnya pun, saya akui pilihannya tidak pernah salah, mungkin ini caranya pribadi, dan secara tidak langsung memberikan kritik atas kehidupan jaman sekarang.

*hidup saya sekarang sedang membosankan, belum menemukan passion dan cinta, mungkin karena saya baru lulus dan sedang memasuki dunia orang dewasa/kerja. Mungkin saya terlalu banyak menonton national geographic sehingga ingin hidup sebagai backpacker yang selalu mengembara entah kemana 😀 …