Sebuah Catatan: Kenang-kenangan untuk Desan Mia

Desan Mia adalah adalah kakek saya dari sisi keluarga ibu, mungkin saya tidak terlalu mengenal dekat beliau karena saya dibesarkan dan tinggal di kota yang berbeda, dan ketika beliau meninggal saya sedang berada di Jogja untuk menempuh kuliah saya di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Ini adalah sebuah catatan yang di kutip dari buku kecil yang ditulis Arnoud H. Klokke untuk mengenang beliau. – Jonh Fredrik Ulysses

Sebuah Catatan :

Kenang – Kenangan
Untuk
Desan Mia

DESAN MIA

Kanamit 1931
Palangka Raya 2005
Oleh
Arnoud H. Klokke
Dokter Pemerintah R.I.
1949 – 1959
Jalan masuk RS Barimba

Jalan masuk RS Barimba

Di sekeliling KuaIa Kapuas -  daerah hilir -

Di sekeliling KuaIa Kapuas – daerah hilir

Kata Pendahuluan
Setelah saudara Desan Mia (Bapak Ani) meninggal dunia di Palangka Raya pada bulan Agustus 2005, saya merasa sudah selayaknya menulis di sini kenang-kenangan waktu kami berdua bekerja bersama-sama di Rumah Sakit Kuala Kapuas, kampong Barimba, antara tahun 1949 – 1951.
Lima perjalanan ke daerah hulu di seluruh wilayah Kalteng kami lakukan bersama-sama. Salah satu perjalanan, yang kami lakukan pada Januari – Pebruari 1951 ke Kapuas Hulu, telah saya tulis dalam buku harian dalam bahasa Dayak Ngaju, dan saya gunakan sebagai contoh penulisan perjalanan-perjalanan kami yang saya tuliskan dulu dalam bahasa Ngaju untuk mengenang apa yang telah terjadi dalam perjalanan tersebut.
Dengan tulisan berikut ini saya juga ingin mengenang semua teman sekerja lainnya,para pegawai RS Barimba, yang dulu ikut serta dalam perjalanan saya. Dalam benak saya terkenang jasa mereka betapa mereka sering memeras keringat dalam cuaca yang bagaimanapun demi menolong para penderita di daerah pedalaman.
Rumah Sakit Barimba
RS Barimba (‘Hanggulan Sinta’) dibangun pada tahun 1930 oleh Mission (‘Zending’) Basel, Swiss. Dokternya yang pertama adalah Dr.Mattheus Visscher, yang sejak 1931 mengepalai pekerjaan di rumah sakit ini. Salah satu bagian tugasnya adalah melakukan perjalanan ke pedalaman. Karena jasanya membiasakan penduduk  dengan cara pengobatan modern dan karena  keramahannya  sewaktu  melaksanakan  tugas ini, Dr. Visscher terkenal sebagai seorang dokter yang dihargai dan dicintai banyak orang. Sayang sekali beliau tidak dapat melakukan pekerjaan ini begitu lama,karena setelah permulaan pendudukan Jepang (1941) tugasnya dihentikan. Beliau mengalami nasib yang malang, karena bersama isterinya beliau ditangkap dan kedua-duanya akhirnya dibunuh oleh Jepang.
Gedung ruang wanita

Gedung ruang wanita

 Lorong Ruang Pria

Lorong Ruang Pria

Ruang Pria

Ruang Pria

Pembangunan kembali rumah sakit setelah perang mengalami kelambanan karena suasana politik, yaitu pemerintah kolonial yang mencoba untuk kembali menguasai Republik Indonesia yang sudah memproklamasikan kedaulatannya pada tgl. 17 Agustus 1945. Baru setelah pertentangan ini berhenti, akhir 1949, dapat dimulai lagi pembangunan kembali dinas kesehatan di sana.
Pembangunan Kembali Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas
Pada bulan Juli 1949 saya mulai bekerja di Kuala Kapuas sebagai dokter, dikirim oleh Zending Nederland untuk menggantikan Nyonya Dokter Dreckmeyer yang sejak 1947 mengepalai RS Barimba. Dokter Dreckmeye; juga dikirim oleh Zending dari semarang, di mana dia telah bekerja sejak sebelum perang.
waktu saya mulai bekerja pada bulan Juli 1949 itu saya berada di  wilayah hulu Banjarmasin, di mana kuasa Republik Indonesia telah nyata terwujud dengan adanya pengerahan pasukanTNI ke daerah hulu ini di bawah pimpinan Hasan Bakri.  Karena tenaga kerja di  RS Barimba terlalu sedikit untuk merawat   60   pasien   dan   menolong  pasien  poliklinik  yang datang makin banyak, maka pemerintah Kabupaten Kapuas menunjuk rumah sakit sebagai tempat pendidikan pembantu perawat. Calon muridpun mulai berdatangan karena tertarik pada pendidikan ini. Di antara mereka terdapat Desan Mia dari Kanamit.
Desan sewaktu masuk sekolah di barimba

Desan sewaktu masuk sekolah di barimba

Perawat Emil Rabu

Perawat Emil Rabu

Desan (kanan) dan Milin sedang main badut

Desan (kanan) dan Milin sedang main badut

Pada waktu itu di rumah sakit bekerja seorang perawat, mantri Emil Rabu (Bapak Kaban), yang menjadi wakil kepala rumah sakit dan yang merupakan pendukung saya. Selain itu masih ada dua zuster dari Swiss, yaitu Zr. Elsine dan Zr. Lilly. Pada pertengahan tahun 1950 Zr. Elsine pindah ke Kuala Kuron, dan sebelumnya Zr. Lilly sudah pindah ke Nanga Bulik (Kota Waringin). Pauline Elbaar menjadi kepala ruangan wanita dan sesudahnya menjadi bidan di seberang (Selat). Mantri Dilly Bangkan menjadi kepala ruangan pria. Untuk menambah jumlah tenaga kerja juru rawat pemerintah mencari calon-calon murid sekolah pembantu perawat yang baru di buka.
Selain Desan ada lagi yang datang, seperti misalnya Samaul dan Sugu Hinting dari Horung Bunut, Tewang Pajangan serta ldun dari  Timpah, serta Dehel, Barthel, Gotfried Runjan dan Christian (Sian) dari Barimba. Kemudian dating pula dari hulu Kapuas dan Rongan, yaitu Tuis Inoi, Pikul (dariBajuh) dan Abner Erang (dari Tbg. Malahoi). Mohon dimaaflkan bahwa saya telah lupa nama-nama lain yang seharusnya saya tambahkan di sini.
Sebagai pengisian waktu senggang kami bermain olah raga sepak bola, bulu tangkis, dan kadang-kadang bersandiwara.
Dalam gambar terlihat Desan dan Milin sedang main sandiwara sebagai badut. Sebagian dari nama-nama yang saya sebutkan di atas secara bergilir ikut dalam perjalanan-perjalanan yang diadakan pada tahun-tahun berikutnya.
Pada pertengahan tahun 1950 Barimba mendapatkan tambahan tenaga dokter, yaitu Dr. Hoogenkamp. Hal ini memberikan kesempatan kepada kami untuk mengadakan pembagian tugas, sehingga saya dapat melakukan perjalanan di pedalaman ke tempat-tempat untuk menyelidiki kebutuhan medis serta mengobati penduduk seperlunya. Untuk setiap perjalanan disusun sebuah rombongan, dan Desan merupakan pusat organisasi yang selalu ikut serta.
Ibu dan Bapak Desan di Kanamit

Ibu dan Bapak Desan di Kanamit

Desan berpegang kemenakannya dan kakaknya

Desan berpegang kemenakannya dan kakaknya

Ibu  Desan di kelilingi keluarga

Ibu Desan di kelilingi keluarga

Andi Desan Roth, bersama saya di Kanamit

Andi Desan Roth, bersama saya di Kanamit

Perjalanan Turne Rombongan Kesehatan
Perjalanan yang pertama diadakan pada bulan Mei 1950 ke Kapuas Hilir sampai Bahaur dengan menggunakan sebuah perahu kecil yang bermotor temple dan di beri nama ‘Pahari Bulat Atei’ (kutipan dari buku nyanyian gereja yang artinya ‘saudara bersatu’). Dalam perjalanan itu kami singgah di tempat kediaman orang tua Desan di Kanamit.
Kembali dari turne dengan hadiah pasien

Kembali dari turne dengan hadiah pasien

Desan sedang menikmati semangka

Desan sedang menikmati semangka

Perjalanan berikutnya menuju ke Kahayan Hulu dengan menggunakan dua perahu bermotor tempel. Perahu yang baru cukup panjang (lebih dari7 ,5 m), sehingga di beri nama ‘Tampahas’ (nama ikan yang terbesar di Kalteng). Dengan dua perahu ini, berdampingan, kami berangkat pada bulan Juli dan kembali bulan Agustus 1950.
Untuk perjalanan tersebut kami ternyata harus memperhatikan beberapa masalah logistik, 1) Karena penduduk sering tidak berada di kampung tetapi di pondok tanah di bagian darat, maka jauh-jauh sebelumnya kami sudah harus memastikan tanggal kedatangan kami dan memberitahukan kepada tiap-tiap kampung yang akan kami kunjungi;   2)  Perbekalan  bahan  bakar  untuk  motor  tempel
harus diurus terlebih dahulu dengan bantuan para kepala kampong agar drum bahan bakar sudah diletakkan di ujung kampong untuk menyimpannya. Akhir tahun 1950 muncul berita akan adanya wabah cacar di wilayah Kapuas Hulu dan rombongan kami ditugaskan oleh InspekturKesehatan di Banjarmasin untuk mengadakan penyelidikan di lokasi. Perahu Tampahas di antar oleh kapal bermotor milik pemerintah (kapal B.O.) sampai Timpah, di mana kapal B.O. harus memutar haluan karena air sungai terlalu dangkal.
Tampahas dapat melanjutkan perjalanannya.
Sebagai contoh pengalaman perjalanan rombongan kami, di sini saya susun kisah perjalanan ini (Januari/Pebuari 1951) yang kebetulan masih ada pada saya, dengan teks yang sama seperti dulu waktu saya tulis dengan menggunakan bahasa Dayak Ngaju. Laporan harian tersebut menjadil ampiran pada akhir naskah ini.
Setelah turne itu, April 1951, diadakan lagi perjalanan, yang kali ini ke KahayanTengah sampai Tewah. Baru pada turne ini kami dapat menggunakan kapal bermotor  ‘Sarohan’ milik G.K.E. di Banjarmasin. Perjalanan ini sangat mengesankan kami karena banyaknya anggota penduduk, tua-muda, yang menderita penyakit patek (‘frambusia’), yang hanya dapat kami obati dengan satu suntikan ‘salvarsan’ ke dalam pembuluh darah, yang tidak cukup untuk menghilangkan patek. Kami sering menemukan kampung di mana lebih dari 20% penduduknya terserang oleh penyakit ini. Sementara itu tersiar berita bahwa pada tahun 1949 di Jawa Tengah (Yogyakarta), dengan bantuan dari UNICEF, telah didirikan Lembaga penyelidikan Pemberantasan Penyakit Rakyit (P3R) di   bawah   pimpinan  Dr.  R.  Kodijat,   yang sejak  dahulu  terkenal sebagai tokoh pemberantas penyakit rakyat di Jawa Tengah. Gejala patek dapat dihilangkan dengan satu suntikan depot-penicillin yang disediakan oleh UNICEF.
Anak dengan gejala patek tersebar satdium ke 2

Anak dengan gejala patek tersebar satdium ke 2

Desan di atas kapal menuju Yogya

Desan di atas kapal menuju Yogya

Kunjungan ke Lembaga P3R di Yogyakarta
Dengan iijn dari lkes Banjarmasin kami menghubungil embaga tersebut dan pemimpinnya, Dr. Kodijat. Dari hasil surat-menyurat kami mengetahui bahwa pemberantasan patek secara sistematis telah dimulai di JawaTengah pada pertengahan 1949, dan kemudian menyebar secara pesat ke seluruh pulau Jawa. Pada awal tahun 1951 pemberantasan meluas ke Sumatera. Atas undangan untuk mengunjungi Lembaga P3R di Yogyakarta untuk mempelajari kerja pemberantasan sistematis yang dinamakan, ‘TCP’ (Treponematosis Control Prograim), kami saya danDesan pergi ke Yogyakarta dengan naik kapal Pelni (kami berada di geladak kapal). Di Yogya kami diterima dan di sana untuk kami telah disediakan kamar hotel yang sangat mewah. Disana kami tinggal selama 5 hari dan selama itu lami juga ikut tim TCP berkunjung ke daerah Klaten. Sebagai hasil dari kunjungan ini  TCP dapat diperluas ke Kalteng dan daerah Kabupaten Kapuas menjadi wilayah TCP kedua di luar Jawa. Berlimpah-limpah botol (ampul) depot-penicillin dikirim ke RS Barimba.
Meneruskan Perjalanan, Sekarang Dalam Bidang Kerja TCP
Pada bulan Juni dan Juli 1951 diadakan perjalanan ke wilayah Rongan  dan  Manuhing,  sekali  lagi   dengan   kapal   Sarohan. Baru sekarang diberikan suntikan penicillin dan hasilnya sangat kentara, yaitu pada waktu kami berlayar pulang gejala-gejala patek di tubuh anak-anak sama sekali telah hilang.
Yonias & Sian di apotek kapal Sarohan

Yonias & Sian di apotek kapal Sarohan

Kapal Sarohan berlabuh pada tepi sungai

Kapal Sarohan berlabuh pada tepi sungai

Perpisahan murid bepergian ke Bandung di muka : Sian, Samaul, Desan, Sugu

Perpisahan murid bepergian ke Bandung di muka : Sian, Samaul, Desan, Sugu

Pendidikan Lanjutan Sekolah Perawat di Bandung
Pendidikan untuk pembantu perawat diberikan kepada murid-murid yang tinggal di Barimba di bawah pimpinan mantri E. Rabu. Selain dalam bentuk praktek mereka juga saya beri pengetahuan teoretis pada waktu diadakan turne. Semua murid dari angkatan pertama ternyata lulus ujian akhir di RS Barimba. Sebelumnya saya sudah menghubungi Rumah Sakit Kristen lmmanuel di Bandung. Karena hasil kelulusan yang baik ini seperti yang sudah kami harapkan sejak dulu, maka saya minta kepada pimpinan RS lmmanuel untuk bersedia, menerima murid-murid kami yang lulus sebagai murid perawat di sana.
Pada bulan Agustus diadakan pesta perpisahan dengan para lulusan kami yang akan pergi ke Jawa dan pada gambar yang terlampir dapat kita saksikan pesta perpisahan tersebut. Yang akan pergi adalah Sian,  Samaul, Desan dan Sugu, sedangkan yang masih menunggu gilirannya adalah Barthel, Dehel, Jonias, ldun, Milin dan Leisan.
Kelanjutan TCP Kalteng 1951 – 1952
Setelah keberangkatan Desan ke Bandung, tim TCP melakukan perjalanan lagi ke seluruh wilayah Kahayan dan Kapuas untuk melaksanakan pemberantasan patek.
Pada akhir 1952 pemberantasan ini dapat diselesaikan. Sesudah tugas itu selesai, saya dapat ambil cuti ke Negeri Belanda. Waktu melalui Pulau Jawa saya singgah di RS lmmanuel Bandung untuk bertemu dengan murid-murid yang sudah bertambah dari Kalteng banyak ( 8 pria dan 2 wanita).
Akhirnya Desan yang mengantar saya ke pelabuhan Tanjung Priok. Gambar pada sambul tulisan ini memperlihatkan Desan waktu berdiri di dermaga dan memberikan salam kepada saya.
Kunjungan kepada murid Kal-Teng di RS Imanuel di Bandung

Kunjungan kepada murid Kal-Teng di RS Imanuel di Bandung

Catatan tambahan (post-scriptum)
Kalau saya mengenang kembali masa lampau, di mana saya dan Desan bersama-sama melakukan turne, saya merasa telah berhutang budi kepada Desan. Dialah yang telah mengantarkan saya ke sebuah lingkungan yang semula asing bagi saya. Dia mengerti bahwa saya, sebagai pendatang dari luar negeri, berkeinginan lebih dapat memahami adat dan budaya Dayak Ngaju. Dia juga mengerti bahwa saya berusaha untukmemperbaiki kemahiran saya dalam bahasa Dayak. Kerja sama yang erat ini dengan sendirinyamemberikan kesempatan  untuk mencamkan baik-baik penjelasannya tentang peradaban Dayak. Keterangan dan penjelasannya tidak hanya dalam bentuk melainkan lisan, juga dalam bentuk praktek. Karena saya ingin mengalami bentuk kehidupan sehari-hari, Desan pernah mengajak saya menginap di sebuah pondok di ladang orangtuanya di Kanamit untuk ikut menuai padi, sedangkan sebelumnya guru Nuel Binti (BapakTagab) telah mengajarkan kepada saya bagaimana caranya menanam padi.
Walaupun kemudian kami bekerja di tempat yang berlainan, hubungan kami tidak pernah putus. Perkawinan Desan dengan Marie Toemon dilaksanakan waktu saya berada di luar negeri.  Akan tetapi waktu lriani, anak mereka yang pertama, lahir dan kemudian dibaptis di gereja di PulangPisau pada tahun 1957 di tempat mertuanya, saya di undang untuk menjadi saksi baptisan ini. waktu itu saya bekerja di Banjarmasin dan kapalnya hanya membawa saya sampai di muara Anjir Kelampan, karena airnya tidak cukup dalam. Saya berhasil mencapai tempat tujuan dengan menggunakan sepeda dari Mandomai dan harus melintasi banyak jembatan. Di gambar terlihat waktu orang-orang keluar dari gereja.
Iriani baru dibaptis dengan ibu dan bapaknya di muka gereja Pulang Pisau

Iriani baru dibaptis dengan ibu dan bapaknya di muka gereja Pulang Pisau

Sejak kembali ke Negeri Belanda dan mulai bekerja di sana, hubungan kami dilanjutkan baik dalam bentuk surat-menyurat maupun dalam bentuk kunjungan saya ke rumahnya di Selat. Waktu kembali ke Indonesia saya diundang untuk mengikuti rapat para ahli penyakit kulit di Universitas Airlangga Surabaya.
Seperti kebiasaan para kaum tua pada umumnya, hubungan kamipun meluas sampai ke anak-anaknya, yaitu Ani, Katuah dan Konstantin. Bahkan sampai ke cucunya, Andre, yangmenjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada bagian kedokteran. Betapa bangganya Desan dengan cucunya yang akan menjadi dokter!
Maka dari itu tidaklah mengherankan bahwa saya dan Desan dengan berjalannya waktu telah menganggap masing-masing sebagai saudara angkat.
Dengan ucapan terima kaslh
kepada Drs. Supriyanto, MA, atas bantuan
mengecek.& koreksi Bahasa Indonesia
Iklan

3 pemikiran pada “Sebuah Catatan: Kenang-kenangan untuk Desan Mia

  1. Ping balik: lelah « Lentera Jiwa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s