sekilas: jebakan betmen hari ini

Siang tadi saya melihat wall di FB banyak teman-teman yang share link-link aneh dengan nama yang aneh-aneh pula, awalnya saya tidak terlalu perhatikan karena sudah tahu dari awal ini pastinya ‘jebakan betmen’. Dan ketika sore ini saya buka FB lagi buat main CityVille ternyata ¬†makin banyak yang kena ūüė¶ .

yang kena jebakan betmen

yang kena jebakan betmen

 

Kemudian saya browsing-browsing, dan menemukan yang membahas tentang jebakan betmen ini. Dan sepertinya ini teknik yang digunakan spammer untuk berkunjung ke blog-nya dan ‘mungkin’ sekaligus ada yang digunakan untuk mencuri ID facebook korban atau memasukan virus/trojan.

script jebakan betmen

script jebakan betmen

Dilihat dari script yang digunakan apa ada celah pada user_message_prompt di FB mobile ya?

Tapi seperti biasa adalah kekurang waspadaan penggunaan yang terlalu gampang meng-klik suatu link tanpa berpikir apakah link tersebut terlihat mencurigakan atau tidak, atau ini sisi buruk dari fasilitas short URL ?

Iklan

sekilas: Teologi Kemakmuran

Warning : Tulisan ini berdasarkan pendapat pribadi tidak ada maksud untuk menyalahkan, yang ada hanya sebagai perenungan, dan saya bukan sarjana teologia ataupun disebut sebagai ‘orang taat’. Saya hanya manusia seperti yang lainnya yang sedang ‘mencari’ dan mencoba ‘memahami’ Tuhan ….

 

Menurut Wikipedia Teologi Kemakmuran adalah doktrin yang mengajarkan bahwa kemakmuran dan sukses dalam kata lain, kaya, berhasil, sehat sempurna adalah tanda-tanda eksternal bahwa yang bersangkutan dikasihi Allah. Kasih Allah ini diperoleh sebagai sesuatu takdir (predestinasi), atau diberikan sebagai ganjaran untuk doa atau jasa-jasa baik yang dibuat orang tersebut. Sementara itu, penebusan dosa (yang dalam Kristen dilakukan melalui Yesus Kristus) yang dilakukan Allah bertujuan untuk memberikan berkat kesuksesan dan kesehatan.

Intinya ajaran ini mengajarkan pengikutnya akan kesempurnaan hidup dalam ekonomi dan kesehatan.

Dalam ajaran ini ada banyak hal yang saya anggap terlalu berlebihan dan tidak masuk akal. Salah satunya,

Miskin itu dosa?

Ini adalah hal utama yang tidak masuk ke logika saya. ¬†Saya sering mendengar begini “Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahabesar, kaya, penuh¬†berkat dan manusia yang beriman pasti akan mengalami kehidupan yang penuh berkat pula, kaya, sukses dan berkelimpahan“.¬†Tentu saja semua orang ingin kaya, berkecukupan secara materi. Tapi sampai mengatakan orang miskin itu berdosa, sungguh tidak masuk akal. Tuhan Yesus saja datang ke dunia dalam keterbatasan, di lahirkan dalam kandang domba. Entah mengapa miskin itu bisa di sebut dosa? ¬†Saya kira menilai ‘dosa’ seseorang dari kekayaan materi belaka adalah suatu yang sangat-sangat salah. Pandangan manusia yang coba di ‘tuhan’kan.

Terus, apakah Tuhan melarang kita menjadi kaya?

Tentu saja tidak, manusia sejak awal di ciptakan lebih di beri kehendak bebas (free will). Kita bisa saja berusaha (cara baik atau tidak) untuk memperbaiki kehidupan ekonomi kita dan mungkin akhirnya menjadi berkecukupan, atau mungkin kita sudah berusaha tapi kita belum berkecukupan. Dari dua perbandingan ini menurut saya manusia memiliki kehendak bebas dalam usahanya baik itu secara baik atau buruk. Kemudian layakkah nilai iman seseorang di nilai dari materi yang di milikinya? Sedangkan materi itu bersifat jasmani, dan iman adalah suatu yang sama sekali bukan jasmani.

Seseorang yang mengikut Tuhan PASTI di berikan kelimpahan dan kesehatan !

Yakinkah “PASTI”-nya demikian? Saya rasa jikalau para pengikut Tuhan terlalu banyak di masukan kata-kata (kebanyakan malah seperti kata-kata untuk self¬†hypnosis motivator) seperti ini di setiap acara dalam Gereja, akhirnya kata-kata model seperti ini hanya digunakan sebagai ‘brain wash’. Terakhir saya rasa bila terlalu sering di dengarkan kata-kata ini, akhirnya ibarat Tuhan hanya menjadi ‘alat’ untuk mencari kelimpahan dan kesehatan saja, tanpa pernah bercermin akan adanya jalan salib yang sesungguhnya.

Pada dasarnya saya tidak ingin ‘menilai’ Tuhan itu ibarat mesin ATM ataupun menilai ‘keimanan’ seseorang berdasarkan materi ataupun kesempurnaan fisik (sakit berarti tidak sempurna) yang mereka punyai. ¬†Dan saya rasa manusia itu lebih berharga di mata Tuhan melalui hidupnya, bukan melalui apa yang di makan atau apa yang di pakainya.

Saya beberapa kali pernah mengikuti model ibadah yang mengajarkan theologia kemakmuran ini, dan saya juga mengenal beberapa orang yang ‘mengikuti’ ajaran model ini, bahkan saya pernah di ikutkan dalam rapat ataupun pertemuan pemuda-nya. Saya merasa mereka terlalu banyak di ajarkan untuk menampilkan semua yang ‘wah’¬†dibandingkan suatu kesederhanaan, dan kadang saya merasa tidak respect dengan orang-orang ini, terutama dengan mereka yang terlalu sering menyebutkan nama Tuhan (terutama dalam status di jejaring sosial) seolah-olah ingin menunjukkan ke banyak orang sesuatu yang ‘wah’ tadi, sedangkan dengan sesamanya sendiri tidak terlalu peduli.

Mungkin saya yang terlalu idealis dalam memandang, tapi saya yakin Tuhan datang ke dunia bukan untuk memberikan kemakmuran dan kesehatan saja di dunia, Dia datang untuk yang lebih dari itu….

 

“Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkan-lah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemar-kan nama Allahku”. ~¬†Amsal¬†30:8-9

kesepian

Kemarin siang saya chat dengan teman kuliah sekaligus teman kost saya dulu, chat terpanjang dan terlama saya kali ini mungkin. Banyak yang kami bicara kan mulai dari pekerjaan tentu saja karena berhubung kami adalah orang-orang yang baru saja menjejakkan kaki di dunia kerja, dunia orang dewasa katanya. Selain itu kami lebih banyak membicarakan masalah agama, dan tentu saja sedikit tentang cewek ūüôā .

Dari chat ini, aku sadari, aku merasa kesepian beberapa hari belakangan ini, mungkin tepatnya bukan hanya beberapa hari, tetapi mungkin sudah agak lama, atau memang sudah lama sekali.

Saya tahu pada hekekatnya manusia itu dari awal sendirian, kita dilahirkan dan mati pun sendiri, jadi untuk apa mempermasalahkan perasaan kesepian ini? Ya, meskipun begitu, saya tetap merasakan kesepian, selalu seperti ini.

Saya merasa kehilangan teman-teman saya dulu, teman yang bisa di ajak bicara apa aja, teman tempat bertukar pikiran yang rada aneh, bahkan saya merasakan betapa saya kehilangan akan saat-saat kami makan di warung pinggir jalan, burjo, ataupun ‘nongkrong’ di kost teman sambil nonton tv di layar komputer yang kecil sambil membahas apapun (mungkin bercerita horor ūüôā ).

Saya merasa diri saya semakin kosong, sering merasa terpojok sendirian. Memang di kota ini saya ada mendapat beberapa kenalan baru, tapi yang kurang adalah keintiman seperti dulu, ketika kita di hadapkan pada sisi pekerjaan jika berinteraksi dengan orang lain atau istilahnya rekan sekerja, saya merasa keintiman yang manusiawi banyak berkurang.

Dan tentu saya juga mempunyai keluarga, tapi keluarga dan teman tentu berbeda kan?

Ah, semua pikiran saya ini, yang bisa saya lakukan hanya menepi kan rasa ini dan berjalan sendirian, dan yang saya harapkan saya bisa mengatasi ini.

senja yang berlalu lagi

Sudah senja lagi. Minggu-minggu ini saya merasa tidak bersemangat, entahlah, saya semakin lesu menghadapi hari-hari yang terus berlalu, hanya satu pertanyaan ‘sampai kapan mesti seperti ini ?’

Sudah hampir sebulan ini saya tidak melakukan kebiasaan bersepeda sendiri saat sore hari, selain cuaca di kota ini yang setiap sore selalu hujan seperti sore ini, tentu saja lebih ke rasa malas.

Dan saya juga tidak pernah lagi ‘hunting’ foto, sebenarnya ada keinginan untuk travelling ke suatu tempat di luar kota ini, tapi sepertinya saya sedang kehilangan semangat.

Kadang saya bertanya apakah pilihan saya selama ini salah? Kadang hidup memang membingungkan, apalagi jika tidak sesuai dengan rencana kita.

Tanggal 5 Mei nanti menandakan sudah genap 1 tahun saya meninggalkan kota Jogja, rasanya seperti kemarin saja.

Ada kata rindu yang menguap dari hati, tapi entah rindu untuk siapa, apa rasa rindu untuk malam-malam di jalanan kota Jogja, atau mungkin untuk sebuah senyum yang tak terbalas ?

Entahlah….

saya hanya bisa menatap senja yang berlalu menuju malam di balik jendela kamar di temani suara rintik hujan

minggu 2 kuliah

ya ini adalah minggu ke dua saya memberikan kuliah untuk semester ini, seperti tadi siang berbicara 3 jam 2o menit walaupun tidak non-stop, tetap saja melelahkan bagi saya, orang yang tidak pandai berbasa-basi dan tidak banyak bicara/pendiam.¬†Saya pernah membaca suatu hasil penelitian, untuk orang ‘introvert’ ada saat-saat tertentu setelah mereka berinteraksi dengan banyak orang, mereka memerlukan waktu untuk menyendiri, istilahnya seperti sebuah baterai charge yang memerlukan pengisian tenaga kembali.

Jadi tadi sekitar jam 6 tadi, saya jalan-jalan sendiri berkeliling di jalanan kota ini tanpa tujuan yang jelas, sambil menghirup udara dingin kota ini yang tadi sore di guyur hujan. Dan memang di kota ini saya belum menemukan tempat singgah jika saya sedang menyendiri, jadi saya hanya menghabiskan waktu di jalanan kota saja.

Tadi siang, waktu saya hendak memberikan kuliah, saya melihat seorang mahasiswa yang sepertinya cacat kedua kakinya yang di gotong teman-temannya untuk kuliah di tingkat 3. Melihat hal seperti ini, kadang saya malu dengan diri saya sendiri. Orang-orang seperti ini lah yang memang patut di hargai, ditengah keterbatasan diri masih memiliki semangat untuk menempuh pendidikan. Sedangkan saya, kadang saya mengeluh tentang hidup ini…