mengajar itu…

warning penulis bukanlah pengamat pendidikan, penulis hanya seorang freelance yang kebetulan menjadi ‘tenaga pengajar’, dan yang ditulis ini berasal dari otak sendiri dan secara asal 😀 …

Menjadi seorang guru ataupun dosen tentu tidaklah mudah, ibaratnya sebuah pekerjaan menjadi seorang pengajar itu aku istilahkan sebuah  “pekerjaan double”, disamping harus membagikan ilmu yang di miliki, seorang pengajar juga harus bisa mendidik, tentu saja di samping pekerjaan wajib lainnya (koreksi nilai, etc), istilah lain yang ku gunakan ‘pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah’, artinya pekerjaan yang sampai rumah pun pasti masih di pikirkan, baik itu untuk mengajarnya ataupun mendidiknya. Intinya tentu antara kata ‘mengajar’ dan ‘mendidik’.

Sebagai seorang yang bertipikal ‘indepedent learner’ alias seorang otodidaker sejati, aku agak susah untuk menerapkan kata ‘mengajar’ ini ketika aku berada dalam posisi sebagai yang mengajar. Dalam kepala tentu saja seakan-akan sudah tertulis ‘hal-hal seperti ini seharusnya bisa mereka pelajari sendiri‘, itulah yang ada di kepala ku ketika memberikan materi, dalam artian seperti seorang gembala yang menuntun domba-nya untuk minum di sebuah sungai, sang gembala hanya bisa menentukan letak sungai sedangkan yang memutuskan untuk minum atau tidak air sungai tersebut adalah sang domba sendiri. Kalau nggak salah model ‘kelas berbasis kompetensi’ itu bukannya seperti ini?

Aku yang sejak kuliah sudah terbiasa menjadi seorang yang tidak tergantung untuk belajar sesuatu hanya mengharapkan dari yang di terima di bangku kuliah saat proses belajar mengajar terjadi saja, istilah yang sering aku gunakan adalah ‘guru bagi diri sendiri’, ‘learning by doing’, ‘buku adalah guru saya’ atau ‘internet adalah “my master” ‘. Tentu saja kebanyakan ‘ilmu’ yang aku gali saat itu kebanyakan berdasarkan minat dan hobi kala itu, meskipun sedikit banyak bersinggungan dengan materi perkuliahan ku. Dan pada akhirnya apa yang ku pelajari secara otodidak banyak ‘sekali’ membantu baik dalam perkuliahan di semester akhir, pengerjaan Tugas Akhir, atapun di dunia kerja.

Mengajar dalam kelas yang benar-benar ‘kelas’ itu rasanya memang berbeda dengan pengalaman ‘memberikan ilmu’ saat aku kuliah dulu. Aku lebih senang pengalaman waktu aku kuliah dulu itu disebut ‘memberikan pelatihan’, meskipun pengalaman dalam memberikan pelatihan ini dengan skala manusia yang berbeda, mulai dari anak-anak smu, mahasiswa, guru SD, sampai dosen, tetap saja mengajar dalam kelas yang sesungguhnya berbeda. Dalam ‘pelatihan’ orang-orang datang memang orang yang benar-benar tertarik dengan materi yang disampaikan (kalau nggak tertarik, ngapain mau ikut pelatihan 😀 ), sedangkan dalam ‘kelas’ belum tentu semuanya tertarik dengan materi yang disampaikan (materi sebagai hal yang ‘diwajibkan’), apalagi kalau materi yang disampaikan itu susah dan membuat ngantuk. Karena itulah diperlukannya teknik manajemen kelas, cara presentasi yang menarik, etc, istilah ku ‘pekerjaan menjadi double’.

Mendidik inilah yang ku sebut sebagai ‘membuat pekerjaan menjadi lebih double’, aku rasa mendidik lebih kepada mengatur, atau kalau bisa ‘menyarankan’ perilaku yang ‘baik’ ke anak didik. Dan nggak semua saran perilaku ‘baik’ ini bisa diterima semua orang, anggap saja persektif setiap orang tentang apa kata ‘baik’ itu berbeda-beda. Orang yang memiliki ‘rule of moral’ yang lurus dalam hal terdidik tidak terlalu memberikan masalah, sedangkan orang yang ‘tidak lurus’ tentu saja adalah masalah. Sedangkan menurutku yang perlu diperhatikan untuk mengerti kata ‘baik’ bagi seorang terdidik adalah kesadaran diri dan kedewasaan berpikir dari orang yang bersangkutan. Tentu saja setiap jenjang pendidikan mulai dari TK hingga kuliahan memiliki cara mendidik yang berbeda.

Mungkin ini memang pengalaman pertama, masih banyak yang harus diperbaiki di sana sini. Setidaknya kedepannya aku telah memiliki bayangan dan konsep apa yang harus diterapkan dalam hal ‘mengajar’, sedangkan untuk ‘mendidik’ entahlah, aku harus banyak belajar lagi…

Dan dengan istilah tenaga pendidik sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ sebagai gambaran umum di negeri ini, yang memang kadang kata ‘tanpa tanda jasa’ ini sangat mengena kalau melihat kehidupan para tenaga pendidik di negeri ini *sudah tahu sendirikan kehidupannya gimana….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s